Do’a ketika duduk di antara dua sujud merupakan do'a sangat dahsyat, mencakup kebutuhan kita di dunia dan akhirat. Do'a itu dibaca minimal 17 kali setiap harinya. Marilah kita renungi maknanya:
Robbighfirlii (Wahai Tuhan ampunilah dosaku)
Dosa adalah beban yang menyebabkan kita berat melangkah menuju ke ridho اللّهُ. Dosa adalah kotoran hati yang membuat hati kelam sehingga berat untuk melakukan kebaikan.
Warhamnii (Sayangilah diriku)
Kalau kita disayang اللّهُ hidup akan terasa nyaman karena dengan kasih sayang akan dapat dicapai semua cita-cita. Dengan kasih sayang اللّهُ nafsu kita akan terbimbing.
Wajburnii (Tutuplah segala kekuranganku)
Banyak sekali kekurangan kita, kurang syukur, kurang sabar, kurang bisa menerima kenyataan, mudah marah, pendendam dan sebagainya. Kalau kekurangan kita ditutup/diperbaiki اللّهُ, maka kita akan menjadi manusia sebenarnya.
Warfa'nii (Tinggikanlah derajatku)
Kalau اللّهُ sudah meninggikan derajat kita, maka pasti tidak ada manusia yang bisa menghinakan kita.
Warzuqnii (Berikanlah aku rizki)
Sebagai hamba اللّهُ kita membutuhkan rizki. اللّهُ mampu mendatangkan rizki dari arah yang tak terduga dan tanpa perhitungan.
Wahdini (Berikanlah aku petunjuk/bimbinglah aku ke jalan kebahagiaan)
Kita tidak hanya minta petunjuk/hidayah yang berkaitan dengan agama, tetapi juga meminta petunjuk agar terhindar dari mengambil keputusan yang salah.
Wa'aafinii (Berikanlah aku kesehatan)
Apabila kita sehat kita bisa menambah kebaikan dan manfaat serta tidak menjadi beban oranga lain.
Wa’fuannii (Aku mohon agar kesalahanku dihapus dari catatan)
Kita awali do’a ini dengan mohon ampun dan kita akhiri dengan permohonan agar catatan dosa kita dihapus sehingga kita benar-benar bersih dari dosa seperti bayi yang baru lahir.
Allah memerintahkan kita untuk membaca do’a itu. Rasulullah SAW mencontohkan kepada kita, menurut logika do’a tersebut pasti terkabul. Yang menjadi persoalannya adalah; Di mana hati dan pikiran kita ketika membaca do'a tersebut?
Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa "Allah tidak akan mengabulkan do'a yang keluar dari hati yang lalai." Maka, kita wajib berusaha untuk memahami dan menghayati do'a tersebut agar bisa meraih kekhusyukan shalat kita dan kemaqbulan do'a tersebut.
RESEP MENGHAYATI DOA ANTARA DUA SUJUD
(1) Hafalkan artinya
- Robbighfirlii : Ya Allah, ampuni dosaku
- Warhamnii : Ya Allah, sayangilah diriku
- Wajburnii : Ya Allah, tutuplah kekuranganku
- Warfa'nii : Ya Allah, tinggikan derajatku
- Warzuqnii : Ya Allah, berikan aku rezeki
- Wahdini : Ya Allah, berikan aku petunjuk
- Wa'aafinii : Ya Allah, berikan aku kesehatan
- Wa fuannii : Ya Allah, hapuskan kesalahanku
(2) Pada saat membacanya, bacalah satu-persatu dan perlahan-lahan. Berhentilah sejenak setiap kali membaca penggalan do'a tersebut dan diresapi artinya dalam hati.
Semoga Allah melimpahkan hati yang khusyu' dan do'a yang mustajab kepada kita semua.
Diolah dari kiriman:
Bpk. Drs. H. Sri Wiyoso, MM (Mantan Kepala Disnakertrans, Wonogiri Jawa Tengah)
Showing posts with label Re-Share. Show all posts
Showing posts with label Re-Share. Show all posts
Monday, 20 July 2015
Tuesday, 28 April 2015
Cermin-Cermin Iman
(Pict by islam-n-muslim.blogspot.com)
Cermin Pertama
Jika nafsu syahwat datang bertubi-tubi dan begitu menguasai, maka tengoklah kembali shalat-shalat yang telah berlalu, adakah ia telah berkualitas atau hanya rutinitas hambar semata? Ingatlah, Rabbuna berkata:
فخلف من بعدهم خلف أضاعوا الصلاة واتبعوا الشهوات فسوف يلقون غيا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)
Cermin Kedua
Jika terasa didapati hati begitu mengeras, jauh dari hidayah, akhlak buruk mendominasi lalu datang pula kesempitan, maka tengoklah kembali kualitas hubungan diri dengan orang tua terutama sang bunda. Ingatlah Rabb kita berkata:
وبراً بوالدتى ولم يجعلنى جبارا شقيا
“Dan aku pun berbakti kepada ibuku sehingga Allah tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32)
Cermin Ketiga
Jika kehidupan ini terasa begitu sempit dan menghimpit, penuh kegusaran dan kehampaan, maka tengoklah kembali Al-Qur'an, Kalam Rabb kita, adakah ia terlantunkan menghiasi hari-hari. Rabb kita berkata:
ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشةً ضنكاً
“Dan siapa berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an), niscaya baginya sungguh penghidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)
Cermin Keempat
Jika hari-hari masih terbata-bata dan tiada istiqamah meneguhkan diri di atas kebenaran, maka tengoklah kembali nasihat-nasihat yang telah didengar, adakah ia telah teraplikasi dalam diri? Rabb kita berkata:
ولو أنهم فعلوا ما يوعظون به لكان خيراً لهم وأشد تثبيتا
“Dan sesungguhnya jikalau mereka mau menerapkan nasihat yang sampai kepada mereka, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan iman mereka.” (QS. An-Nisa : 66)
____
Diterjemahkan dan dikembangkan dari page al-Mus-haf al-Jami'
Sumber: Fachriy Aboe Syazwiena | Fanpage Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia
Thursday, 23 April 2015
4 Hal yang Telah Ditetapkan di Kala Usia Kandungan 120 Hari
(Pict by mamaniza.com)
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata: Rasulullah menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan:
“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama 40 hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging selama 40 hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga, maka masuklah dia ke dalam surga”. (HR. Bukhari dan Muslim).
[Bukhari No. 3208, Muslim No. 2643]
Hikmah yang dapat kita petik dari hadits tersebut:
- Allah ta’ala mengetahui tentang keadaan makhluknya sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami, termasuk masalah kebahagiaan dan kecelakaan.
- Tidak mungkin bagi manusia di dunia ini untuk memutuskan bahwa dirinya masuk surga atau neraka, akan tetapi amal perbuatan merupakan sebab untuk memasuki keduanya.
- Amal perbuatan dinilai di akhirnya, maka hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini, justru harus selalu memohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (husnul khotimah).
- Tenang dalam masalah rizki dan qanaah (menerima) dengan mengambil sebab-sebab serta tidak terlalu mengejar-ngejarnya dan mencurahkan hati karenanya.
- Kehidupan ada di tangan Allah. Seseorang tidak akan mati kecuali dia telah menyempurnakan umurnya.
- Sebagian ulama dan orang bijak berkata bahwa dijadikannya pertumbuhan janin manusia dalam kandungan secara berangsur-angsur adalah sebagai rasa belas kasih terhadap ibu. Karena sesungguhnya Allah mampu menciptakannya sekaligus.
Disarikan dari beberapa sumber
Saturday, 21 February 2015
Hanya Sebuah Koin Penyok
(Pict by: blog-inspiratif.blogspot.com)
Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu.
Ia membungkuk dan menggerutu kecewa, "Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok."
Meskipun begitu, ia membawa koin itu ke bank. "Sebaiknya, koin ini dibawa ke kolektor uang kuno", kata Teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dollar.
Lelaki itu begitu senang. Saat melewati toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dollar untuk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan, dia melewati bengkel pembuat meubel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dollar untuk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu.
Dalam perjalanan dia melewati perumahan. Seorang wanita melihat lemari yang indah itu dan menawarnya 200 dollar. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju.
Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar.
Tiba-tiba seorang perampok datang, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya dan bertanya, "Apa yang terjadi? Engkau baik-baik saja, kan? Apa yang diambil perampok tadi?"
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".
--
Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala yang telah kita miliki, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.
Menderita karena melekat, bahagia karena melepas. Karena demikianlah hakikat sejatinya kehidupan, Apa yang sebenarnya kita punya dalam hidup ini? Tidak ada, karena bahkan nafas kita saja bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam selamanya.
Hidup itu perubahan dan pasti akan berubah. Saat kehilangan sesuatu, kembalilah ingat bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa. Jadi "kehilangan" itu tidaklah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan Kehilangan hanya sebuah tipuan pikiran yang penuh dengan ke"aku"an. Ke"aku"an-lah yang membuat kita menderita.
Rumahku, hartaku, istriku, anakku. Lahir tidak membawa apa-apa, meninggal pun sendiri, tidak membawa apa-apa dan tidak mengajak siapa-siapa pula.
Pada waktunya "let it go", siapapun yang bisa melepas, tidak melekat, tidak menggenggam erat maka dia akan bahagia.
Sumber: Whatsapp
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.
Tuesday, 18 November 2014
Because You Want to Love Them in a Right Way
(Pict by: Google.com)
One young man went to apply for a managerial position in a big company. He passed the initial interview, and now would meet the director for the final interview.
The director discovered from his CV that the youth's academic achievements were excellent. He asked, "Did you obtain any scholarships in school?" the youth answered "no".
"Was it your father who paid for your school fees?"
"My father passed away when I was one year old, it was my mother who paid for my school fees.” he replied.
"Where did your mother work?"
"My mother worked as clothes cleaner.”
The director requested the youth to show his hands. The youth showed a pair of hands that were smooth and perfect.
"Have you ever helped your mother wash the clothes before?"
"Never, my mother always wanted me to study and read more books. Besides, my mother can wash clothes faster than me.
The director said, "I have a request. When you go home today, go and clean your mother's hands, and then see me tomorrow morning.
The youth felt that his chance of landing the job was high. When he went back home, he asked his mother to let him clean her hands. His mother felt strange, happy but with mixed feelings, she showed her hands to her son.
The youth cleaned his mother's hands slowly. His tear fell as he did that. It was the first time he noticed that his mother's hands were so wrinkled, and there were so many bruises in her hands. Some bruises were so painful that his mother winced when he touched it. This was the first time the youth realized that it was this pair of hands that washed the clothes everyday to enable him to pay the school fees. The bruises in the mother's hands were the price that the mother had to pay for his education, his school activities and his future.
After cleaning his mother hands, the youth quietly washed all the remaining clothes for his mother. That night, mother and son talked for a very long time.
Next morning, the youth went to the director's office.
The Director noticed the tears in the youth's eyes, when he asked: "Can you tell me what have you done and learned yesterday in your house?"
The youth answered, "I cleaned my mother's hand, and also finished cleaning all the remaining clothes"
"I know now what appreciation is. Without my mother, I would not be who I am today. By helping my mother, only now do I realize how difficult and tough it is to get something done on your own. And I have come to appreciate the importance and value of helping one’s family."
The director said, "This is what I am looking for in a manager. I want to recruit a person who can appreciate the help of others, a person who knows the sufferings of others to get things done, and a person who would not put money as his only goal in life.”
“You are hired.”
A child, who has been protected and habitually given whatever he wanted, would develop an "entitlement mentality" and would always put himself first. He would be ignorant of his parent's efforts. If we are this kind of protective parents, are we really showing love or are we destroying our children instead?
You can let your child live in a big house, eat a good meal, learn piano, watch on a big screen TV. But when you are cutting grass, please let them experience it. After a meal, let them wash their plates and bowls together with their brothers and sisters. It is not because you do not have money to hire a maid, but it is because you want to love them in a right way. You want them to understand, no matter how rich their parents are, one day their hair will grow gray, same as the mother of that young person. The most important thing is your child learns how to appreciate the effort and experience the difficulty and learns the ability to work with others to get things done.
Sumber: Twitter
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.
Wednesday, 23 July 2014
Realize Value of Time
(Pict by: timeanddate.com)
To realize the value of ONE YEAR, ask a student who failed a grade.
To realize the value of ONE MONTH, ask a mother who gave birth to a premature baby.
To realize the value of ONE WEEK, ask the editor of a weekly newspaper.
To realize the value of ONE DAY, ask the person who was born on February 29th.
To realize the value of ONE HOUR, ask the lovers who are waiting to meet.
To realize the value of ONE MINUTE, ask a person who missed the train.
To realize the value of ONE SECOND, ask a person who just avoided an accident.
To realize the value of MILLISECOND, ask the person who won a silver medal in the Olympics.
Sumber: Twitter
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.
Sunday, 29 June 2014
Tarhib Ramadhan #KulTwit Ustadz Hilman Rosyad
Alhamdulillah, kita diperkenankan oleh Allah SWT untuk berjumpa kembali dengan bulan mulia dan penuh berkah, yaitu bulan Ramadhan. Semoga Ramadhan kali ini tidak berlalu bergitu saja karena kita tidak tahu akankah kita diperkenankan bertemu dengan Ramadhan tahun depan atau tidak. Oleh karenanya, agar Ramadhan kita berkualitas perlu adanya persiapan dan bekal yang cukup. Berikut saya lampirkan informasi tentang Tarhib Ramadhan melalui KulTwit dari Ustadz Hilman Rosyad (dengan penyesuaian bahasa seperlunya). Semoga bermanfaat dan selamat menunaikan ibadah puasa. #MarhabanYaaRamadhan
- Ramadhan bulan berkah, bulan ibadah, bulan maghfiroh, bulan pelipatgandaan pahala, bulan tarbiyah. Benarkah?
- Ramadhan menjadi tidak bermakna apa-apa bila banyak makan saat malam hari, senda gurau, main mulu, main petasan, tidur siang hari.
- Gagal ramadhan disebabkan kita tidak miliki visi-misi yang benar seperti yg disunnahkan.
- Visi Ramadhan adalah “persedikit makan/minum dan perbanyak ibadah. Setuju?
- Hanya dengan sedikit makan dan banyak ibadah seluruh keutamaan Ramadhan akan tercapai dan kita berhak medapat ampunan.
- Misi Ramadhan ada 10 poin. Pengen tahu?
- Misi pertama: ta’khirussahur (mengakhirkan sahur). Sahur? Bukan makan malam atau sarapan, sahur adalah terjaga di 1/3 akhir malam.
- Sabda Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Bangunlah pada waktu sahur karena waktu sahur itu penuh berkah”.
- Pastikan setiap hari pada Ramadhan kita terjaga di waktu sahur untuk meraih berkah tidak sekadar makan/minum.
- Misi kedua, menyegerakan berbuka. Rasul bersabda: “Ummatku senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa”.
- Sunnah bersegera berbuka sepertinya pasti dilaksanakan semua orang, tetapi tahukan cara buka Rasulullah? Pasti tahu kan?
- Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam selalu berbuka dengan kurma 3 butir lalu minum air kemudian shalat Maghrib. Setelah Maghrib? Beliau menanti shalat Isya'.
- Rasul berbuka tidak seperti kita berbuka; kurma, kolak, bakwan, dan teh manis. Setelah Maghrib, kita santap nasi dengan berbagai lauk pauknya.
- Seringkali kita jadikan antara Maghrib dan Shubuh sebagai ajang makan/minum semata. Jelas ini tidak sesuai Sunnah Rasul.
- Cara berbuka Rasul mensunnahkan kita untuk “memelihara” suasana lapar siang hari karena puasa pada malam hari.
- Islam agama yang tidak merusak apalagi membinasakan human being kita, Islam agama mudah dan memudahkan.
- Sunnah berlapar-lapar pada malam hari dibarengi kehalalan makan minum (seperlunya) agar kita tetap sehat dan kuat ibadah.
- Ingat visi #Ramadhan: persedikit makan dan perbanyak ibadah. Setuju?
- Misi ketiga; qiyamullail. QL adalah rangkaian shalat sunnah 2 rakaat demi 2 rakaat antara Isya' dan Shubuh dengan sekali witir.
- QL yang benar tidak dilihat dari jumlah rakaat 8 atau 20, tetapi seberapa lama qiyam, ruku, dan sujud serta kekhusyuannya.
- Seluruh hadist tentang QL Rasulullah hanya menjelaskan bahwa QL beliau itu berlama-lama saat qiyam, ruku', dan sujud serta betapa khusyu’.
- Jumlah rakaat berapapun bukan masalah penting, yang penting adalah sifat QL Rasulullah bisa kita laksanakan; lama dan khusyu. Mau?
- Berlebihan dan berkenyang-kenyangan saat berbuka puasa sangat mengganggu kekhusyu’an dan kesanggupan berlama-lama qiyamullail.
- Pilihan QL sangat banyak, silakan maksimalkan di rentang 9 jam antara Isya'-Shubuh di setiap malamnya.
- QL bisa di awal, tengah atau akhir malam, boleh berjamaah atau munfarid, yang penting sekali witir sebelum tidur atau menjelang Shubuh.
- Pastikan setiap malam Ramadhan kita berqiyamullail karena QL adalah kembaran puasa. Puasa di siang dan QL malam harinya. Selamat mencoba!
- Misi keempat; tilawatul Qur'an. Ramadhan bulan Qur'an! Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril as selalu menkhatam Qur'an berkali-kali setiap Ramadhan.
- Yang penting baca! Belum lancar baca Qur'an segera belajar sekarang juga! Yang sudah lancar, maka perbanyaklah bacaannya min 1juz/hari.
- Jangan tergoda dengan; “ah yang penting faham bukan baca Qur'an!” Ketahuilah! Baca adalah tuntutan dan faham adalah tuntutan yang lain.
- Jadikanlah hari-hari dan malam-malam Ramadhan sebagai har dan malam yang disenandungkan Qur'an dengan ikhlas plus benar dan baik bacaannya.
- Sekali lagi membaca Qur'an ibadah dan memahaminya pun ibadah. Jangan salah satu mengabaikan yang lain, amalkan keduanya.
- Misi kelima: dzikir dan do’a. Dzikir adalah simbol dekatnya hamba kepad sang Kholiq. Do’a simbol “connecting” antara keduanya.
- Kedekatan harus mewujud sikap hamba selalu harap dan takut kepada Allah dan sifat Allah yang rahman terhadap hambanya, itulah hakekat dzikir.
- Keterhubungan adalah ketika hamba yang faqir selalu memohon kepada Allah yang maha kaya melalui do’a tulus nan ikhlas.
- Waktu do’a terbaik pada saat Ramadhan adalah saat jelang berbuka, tetapi sebagian kita saat tersebut justeru sibuk dengan hidangan berbuka!
- Berdo’alah untuk diri, pasangan, keluarga, masyarakat, dan bangsa Indonesia di setiap jelang buka sepanjang bulan Ramadhan.
- Kerja keras, cerdas, dan ikhlas yang diawali perencanaan matang serta diikuti evaluasi akurat menjadi sempurna dengan do’a.
- Misi keenam; zakat, infaq, shadaqoh, dan waqaf. Semuanya simbol berbagi dengan sesama. Sejatinya Ramadhan adalah bulan peduli dan berbagi!
- Ramadhan tidak boleh menurunkan produktifitas! Ia mendongkraknya, Ramadhan yang bervisi-misi mmbuat siapapun hidup dengan efektifitas tinggi.
- Sepanjang Ramadhan acktivitas sekunder dan tersier pasti jarang dan sulit dilakukan karena fokus pada amaliyah Ramadhan. Kita jadi hemat!
- Hemat terhadap hal-hal sekunder dan tersier, sengaja makan sedikit, fokus ibadah menjadikan rekening masih penuh, dompetpun masih tebal.
- Maka shadaqoh dan wujud kepedulian serta kedermawanan lain menjadi mudah dibuktikan orang bervisi-misi Ramadhan yang benar sesuai sunnah Rasul.
- Misi ketujuh; perbanyak amal sholih dan ibadah sunnah lainnya. Yang dimaksud dengan ‘lainnya’ adalah selain ibadah pada misi 1 s.d 6.
- Tholabul ilmi dengan membaca buku islami, simak acara TV, radio, internet, dan social media yang berkonten islami, hadir di majelis ilmu.
- Memastikan kehadiran diri pada shalat berjamaah, berbakti kepada orang tua, jadi panitia Ramadhan dan amal shalih lainnya harus optimal.
- Misi kedelapan; meninggalkan hal-hal mubah yang tidak bermanfaat. Ramadhan saatnya kita serius, giat, sungguh-sungguhm dan unjuk prestasi! Bukan santai!
- Permainan monopoli, ular tangga, gaple, congklak, PS, petasan, dan ngabuburit jauh lebih dominan dibanding amaliah Ramadhan.
- Konten acara TV yang tidak berakhlaq penuh dengan lawak yang mengeksploitasi fisik bukan dialog cerdas menambah daftar ketidakbermanfaatan.
- Kerja produktif, unjuk prestasi, ulet, gigih, smart, sungguh-sungguh; memberi faidah kepad yang lain adalah keharusan sepanjang Ramadhan.
- Misi kesembilan; iktikaf. Definisinya adalah hadir di masjid dengan niat taqorrub dan ibadah kepada Allah SWT.
- Iktikaf harus di masjid jami’ yang buat Jumatan. Semakin besar maka semakin afdol. Makanya masjidil Haram Mekah paling afdol untuk beriktikaf.
- Iktikaf sangat terbatas pada ruang dan tidak terbatas pada waktu. Karena sunnah iktikaf sepanjang tahun, terutama Ramadhan.
- Sunnah iktikaf pada Ramadhan adalah di setiap harinya. Tetapi yang paling afdol adalah di 10 hari terakhir siang dan malamnya.
- Perempuan yang iktikaf harus memperhatikan hal-hal berikut seperti suci, di masjid yang ada fasilitas iktikaf untuk muslimah dan tidak meninggalkan kewajiban utama.
- Di tengah kesibukan beraktifitas sempatkan sesering mungkin hadir di masjid meskipun sering keluar masuk yang penting jaga niat.
- Dengan iktikaf, jadikanlah masjid sebagai tempat favorit untuk dikunjungi dan berbuatlah yang sesuai dengan kesucian masjid bila berada di dalamnya.
- Misi ke-10; mencari Lailatul Qodar (LQ). Bila kita pada LQ terjaga dan melaksanakan ibadah, maka berpahala setara dengan ibadah siang malam selama 1000 bulan.
- Kapankah LQ itu? LQ diperkirakan di malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan. Propabilitasnya malam 21, 23, 25, 27, dan 29.
- Terdapat pula riwayat bahwa LQ itu malam-malam ganjil pada 5 hari terakhir Ramadhan, maka propabilitasnya malam 25, 27, dan 29.
- Bahkan beberapa sahabat, seperti Ubay bin Ka’ab, meyakini; “sepertinya” LQ itu malam 27 setiap Ramadhan.
- Bagi yang amat sibuk carilah LQ pada 3 malam ganjil terakhir (25, 27, dan 29) dan bagi muslim “seperlunya” pastikan malam 27 mantengin nyari LQ.
- Urgensi LQ lebih pada dimensi waktu yaitu ‘lailat’ atau ’malam’. Berbeda dengan iktikaf yang lebih pada dimensi ruang (masjid).
- Berarti siapapun dan di manapun ia berada bisa mencari LQ pada waktu yang diperkirakan yaitu malam-malam ganjil di 10 malam terakhir.
- Bagaimana mencari LQ itu? Gampang banget! Cuma terjaga sepanjang malam yang diperkirakan s.d fajar sambil terus beribadah apa saja yang bisa dan mungkin.
- Bagi yang mau mengoreksi, menambahkan atau istifsar (bertanya lebih lanjut) sangat dipersilakan dan mohon maaf bila terdapat hal yang tidak berkenan.
Tuesday, 20 May 2014
Aisyah dan Maisyah
Materi ini diambil dari buku “Aisyah & Maisyah: Persiapan Keuangan Menuju Pelaminan” terbitan GIP. (Dishare melalui akun Twitter Mas Ahmad Gozali, Pakar perencanaan keuangan Syar’i)
*dengan bahasa (diksi) yang sedikit disesuaikan oleh @fachriyaqub
***
Aisyah adalah istri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang paling sering dibahas dalam sejarah. Aisyah adalah icon istri idaman para lelaki bujangan. Sementara, maisyah artinya sumber nafkah, api pembakar tungku di dapur, bensin penggerak mesin rumah tangga, perannya kecil tetapi penting.
Aisyah dan maisyah merupakan dua hal yang menjadi faktor tarik-ulur para pemuda di penghujung masa lajangnya. “Aisyah sih sudah ada, tapi maisyahnya belum siap.” Begitu kilah para pemuda ketika ditanya oleh Ustadznya untuk segera menikah. Maka setelah lulus kuliah, para pemudi sudah pasang sign “Yes, I’m ready!” Tapi sayang, para pemuda masih duduk bimbang di pojok masjid.
Pemuda jomblo: “Cari Aisyah dulu apa maisyah dulu ya... pusing ah.”
Coba perhatikan perbincangan di kalangan jomblo saat menghadiri akad nikah atau resepsi pernikahan, di antara para pemuda dan pemudi berbeda topik bahasannya. Para pemudi colek pengantin, tanya bagaimana perasaannya, kenal di mana, dan sebagainya. Sementara, pemuda colek pengantin dan tanya “Abis biaya berapa lu?”
Di sinilah para pemuda harus diluruskan pemahamannya. Mereka menunda menikah hanya karena alasan belum ada biaya untuk resepsi yang mahal. Wahai para pemuda, ketahuilah bahwa semahal-mahalnya biaya resepsi, masih bisa nego, juga masih bisa patungan. Tapi semurah-murahnya biaya hidup setelah menikah, itu tanggungjawabmu sendiri sebagai suami!
Saya ulangi: “Semahal apapun biaya resepsi, bisa nego dan patungan. Tapi semurah apapun biaya hidup, harus dari kantong sendiri”. Maka benahi prioritasmu, mengusahakan maisyah bukan untuk biaya resepsi, tetapi untuk biaya hidup mandiri sesudah menikah. Jadi kalau nabung abis-abisan buat pesta besar lalu kemudian setelah itu numpang sama mertua, itu namanya TER.. LA.. LU..!! Tunda pernikahan dengan alasan belum punya dana buat resepsi, tapi malah ngabisin duit buat pacaran sana sini, itu namanya TER.. LA.. LU..!!
Tapi bagaimana kalau emang buat biaya hidup saja sepertinya belum cukup? Silakan baca Al-Qur'an surat ke 24 ayat 32 bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman "Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.“ (24:32).
Hanya dengan menikah saja, Allah berikan rezeki.. apalagi kalau setelah menikah menjadi tambah tanggung jawab, tambah semangat berusaha.
Tapi bagaimana kalau calon mertua yang minta pesta pernikahan seperti ini itu? | Statusnya masih camer kan? Kalau gak sanggup, berarti gak jodoh! Simple! Lulus kuliah alasannya belum kerja, sudah kerja alasannya belum karyawan tetap. Sudah diangkat, ada lagi alasan ini itu lainnya.
Nunggu mapan baru nikah? Apa nikah agar menjadi mapan?
Belum punya rumah, belum punya kendaraan, belum punya gaji tinggi. Itu cuma alasan! Yang benar adalah belum punya nyali!
Kalau Anda menunggu mapan agar bisa menarik hati wanita agar mau dinikahi, kira-kira apa ya alasannya dia mau? Istilah Sakinah-Mawaddah-Warahmah: Damai-Cinta-Kasih ini adalah tangga urutan tiada kasih tanpa cinta dan tiada cinta tanpa damai. Sakinah-Mawaddah-Warahmah itu hadir setelah menikah. Sakinah itu artinya damai, tenang, mapan. Artinya mapan baru hadir setelah menikah.
Jadi, mantapkan niat, ubah prioritas keuangan untuk hidup setelah menikah bukan untuk resepsi mewah.
—
“Maisyah udah ada, tapi Aisyah belum ketemu.” Itu juga alasan. Yang benar adalah belum ketemu nyali untuk mencari Aisyah". Untuk para pemuda, jangan tunggu mapan. Yang penting berpenghasilan dan sanggup bertanggungjawab menafkahi istri. Sementara untuk para pemudi, jangan tunggu pemuda tampan berkuda putih menjemputmu. Siapkan diri juga secara finansial. Siap start dari NOL!
Oke, niat sudah mantap. Aisyah sudah siap, maisyah sedang dijemput.
Pada bahasan selanjutnya akan dibahas mengenai Ta'aruf & Seleksi (tetap dari kacamata keuangan ya!)
Boleh gak sih pertimbangkan harta dari calon suami/istri? Boleh saja, tapi jangan jadikan sebagai pertimbangan utama ya. Ingat rumus:
Agama = 1
Fisik = 0
Keturunan = 0
Harta = 0, dan
lain-lain nilainya 0 juga.
Coba urutkan kriteria tersebut untuk dapat nilai yang tinggi.
Kalo kriterianya: Ganteng+Baik Hati+Darah Biru+Kaya Raya+Agama OK, maka nilainya 00001. Alias 1 saja. Coba kriterianya diubah, Agamanya OK+Cantik/Ganteng+Pinter+Keturunan Baik-Baik+Kaya Raya, nilainya 10000. Maka, makin banyak 0 makin bagus!
Oke dilanjut, seleksi sudah clear ya.. pakai rumus 1+0+0+0...
Sekarang kita bahas ta'aruf alias “perkenalan”.
Ingat pepatah bilang, “Tak kenal, maka ta’aruf” sehingga ini menjadi tahap yang penting juga lho.
Apa yang perlu dikenal dari calon pasangan? Intinya sih penghasilan, gaya hidup, hutang,... Tapi bagaimana cara tanya yang elegan?
Banyak pemudi yang ragu kalau harus tanya “Emang gajimu berapa?”. Tak sedikit pula pemuda yang tidak mau terbuka kecuali ditanya.
Pertanyaan cewe matre kayak gini: “Mo ngasi makan apa lo berani ngelamar?” | Tapi kalau cewe solehah begini: “Jelaskan, bagaimana caramu membawa makanan halal dalam rumah kita?”
Luruskan niat, tanya penghasilan bukan karena matre. Tapi, minta kepastian bahwa hanya lelaki bertanggungjawab yang boleh menikahimu. Luruskan niat, cerita tentang maisyah bukan karena sombong, melainkan untuk meyakinkan calonmu bahwa hanya harta halal yang akan dibawa pulang ke rumah.
“Malu mau jujur kasih tahu, gajiku kan kecil, nanti ditolak...” Ada yang beralasan begini?
Jika Anda ditolak karena dianggap penghasilannya kecil, berbahagialah karena Anda telah diselamatkan dari bahaya yang sangat besar. Bayangkan seperti apa jadinya rumah tangga yang kelak dibangun jika Anda mengaku berpenghasilan besar agar diterima mertua. Sungguh bahaya yang sangat besar menanti di depan jika kondisinya demikian.
Jangan bandingkan fasilitas calon suami (yang baru beberapa bulan/tahun kerja) dengan fasilitas orang tua di rumah (yang sudah puluhan tahun). Maka wajar kalau harus ngontrak di rumah dalam gang becek, gak ada ojek. Start bersama dari 0 itu lebih nikmat, jadi kenangan sampe tua.
JANGAN NILAI CALONMU DARI PENGHASILANNYA SEKARANG. TAPI NILAILAH IA DARI POTENSINYA DI MASA YANG AKAN DATANG.
Menunda pernikahan karena masalah keuangan akan membuat Anda terjerumus pada masalah keuangan yang lebih besar di masa depan. Masuk usia pensiun, anak masih belum lepas nafkah, melahirkan anak di usia lebih dari 35 tahun berisiko tinggi, dan asuransi menjadi lebih mahal serta kondisi atau permasalahan lainnya yang mungkin muncul.
So, ayo para pemuda dan pemudi mulai sekarang atur ulang prioritasmu dan niatkan semua yang akan dijalani ini semata-mata untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Friday, 16 May 2014
Satu Jam Ekstra!
Para pekerja di Jakarta dan sekitarnya rela menambah waktu kerja mereka beberapa jam di pagi hari dan beberapa jam di malam hari, sekadar untuk pergi dan pulang kerja. Jutaan orang melakukan ini dan tanpa disadari telah berlangsung cukup lama. Mereka terpaksa melakukannya karena harus tiba di tempat kerja tepat waktu - di tengah kemacetan jalan yang terus memburuk. Seandainya saja mereka dengan sukarela mau meluangkan waktu satu jam ekstra di waktu yang lain bisa jadi hasilnya akan jauh berbeda.
Satu jam ekstra ini adalah waktu sahur untuk menunaikan shalat malam, waktu terbaik untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada-Nya. Bila kita rela membuang waktu kita beberapa jam setiap hari di jalan raya, mengapa kita tidak melakukannya secara sukarela menggunakan satu jam saja di waktu sahur untuk bangun, sholat, dan berdoa? Satu jam untuk shalat malam adalah waktu yang cukup untuk bisa menikmati rakaat demi rakaat dan sujud menghadap Sang Maha Pencipta di shalat malam kita. Waktu yang cukup untuk mengungkapkan segala kegalauan hati kita kepada-Nya, memohon pertolongan, dan solusi atas segala permasalahan hidup kita.
Pada umumnya, kita rela bangun lebih pagi dan pulang lebih malam untuk bisa memenuhi disiplin kerja kita di kantor dengan imbalan gaji bulanan dan bonus bagi kita serta karir untuk masa depan kita. Tetapi, kantor kita bisa saja tidak mampu memenuhi janji tersebut – tergantung kondisi perusahaan atau instansi tempat kita bekerja.
Di sisi lain, ada yang menjanjikan satu jam ekstra kita dengan janji yang pasti dipenuhi dan bukan hanya janji untuk kepentingan dunia saja melainkan juga hingga kepentingan akhirat kita – jaminan karir dunia akhirat! Karena yang berjanji adalah Dia Yang Maha Menepati Janji. Janji ini dikabarkan antara lain melalui hadits berikut: "Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam." (HR. Muslim)
Dalam sejarah, banyak bukti nyata yang menunjukkan telah dipenuhi janji-Nya kepada orang-orang yang secara konsisten melakukan shalat malam. Salahuddin Al-Ayyubi berani berangkat menaklukkan (kembali) Jerusalem dan berhasil – setelah dia mendapati pasukannya melakukan shalat malam di tenda-tendanya. Muhammad Al-Fatih tidak pernah meninggalkan shalat malamnya sejak dia baligh, sekitar separuh dari pasukannya-pun melakukan hal yang sama. Hasilnya adalah penaklukkan Konstantinopel dengan strategi perang yang tidak terbayangkan sebelumnya – bahkan sulit terulang untuk zaman modern ini sekalipun.
Kini, kita memang tidak sedang berperang secara fisik melawan siapapun, namun justru kondisi inilah yang membuat kita ‘kalah’ dalam berbagai ‘medan peperangan’ yang bersifat sistematis dan terselubung. Kita sedang ‘kalah’ dalam peperangan pemikiran dan budaya sehingga sebagian besar dari kita harus bekerja dengan irama yang membuat kita sulit untuk dapat menunaikan shalat lima waktu dengan khusyu’ dan tepat waktu. Bagaimana bisa shalat tepat waktu dengan khusyu’ bila waktu adzan Maghrib dan Isya’ masih di tengah kemacetan lalu lintas?
Kita ‘kalah’ dengan sistem kapitalisme ribawi yang mendominasi perekonomian kita sehingga untuk urusan jaminan sosial dan jaminan kesehatan para pekerja – mereka dipaksa secara hukum untuk menerima yang riba. Kita ‘kalah’ dalam perang ekonomi di mana sekitar separuh penduduk negeri ini berdaya beli kurang dari US$ 2 per hari. Padahal, kondisi ini baru sekitar 1/5 dari standar nishab zakat 40 ekor domba!
Ironisnya, kita juga ‘kalah’ dalam sistem demokrasi – yang seharusnya kita bisa dan mampu untuk memang, namun umat muslim yang banyak di negeri ini tidak dapat berbuat banyak bahkan demokrasi ini telah menjadi tragedi yang memecah belah umat menjadi banyak golongan. Umat bukan hanya dipecah antar partai, bahkan dalam satu partai-pun para pendukung caleg A bisa berpecah dengan pendukung caleg B. Jamaah shalat di masjid-masjid-pun menjadi kaku hubungan antar sesamanya di musim pemilu karena sebagian mendukung partai A dan sebagian yang lain Golput atau mendukung partai lain.
Dalam skala pribadi-pun kita lebih banyak ‘kalah’ dengan sistem yang ada ketika kita berusaha membangun usaha yang bebas riba, riswah, dan sejenisnya. Kita sering ‘kalah’ ketika berusaha membangun lingkungan kerja yang bersih dari apa-apa yang tidak diridloi-Nya. Maka banyak sekali ‘peperangan-peperangan’ yang masih harus kita menangkan, sedangkan kita amatlah lemah kecuali bila kita bisa menghadirkan pertolongan-Nya. Shalat malam adalah salah satu jalan yang dapat kita tempuh untuk menghadirkan pertolongan-Nya dalam setiap kesulitan dan jalan buntu yang kita temui.
Perencanaan kita terbatas dan usaha kita pun sulit untuk mencapai maksimal, maka hanya dengan kehadiran dan pertolonganNya-lah yang bisa menyempurnakan segala usaha kita. Bila untuk ini diperlukan 1 jam ekstra di waktu sahur, apakah terlalu berat? Apakah terlalu berat untuk membiasakan bangun dan shalat malam sekitar pukul tiga dini hari untuk satu jam saja, sedangkan kita punya begitu banyak waktu tidur di jam-jam yang lain? Kita bisa tidur dalam perjalanan pergi dan pulang kantor selama berjam-jam. Kita bisa juga membiasakan tidur satu jam lebih awal dari biasanya agar nanti bisa bangun pukul tiga dan dengan berbagai cara lain yang bisa kita tempuh untuk mendapatkan waktu satu jam ekstra yang amat sangat berharga tersebut.
Tidak hanya berharga untuk kehidupan kita di dunia, tetapi juga yang lebih utama tentu untuk kehidupan kita di waktu yang tidak terbatas – yaitu di akhirat kelak. Shalat malam kitalah yang insyaAllah bisa membuat Allah tersenyum. “Ketahuilah, sesungguhnya Allah tersenyum terhadap dua orang laki-laki: Seseorang yang bangun pada malam yang dingin dari ranjang dan selimutnya, lalu ia berwudhu’ dan melakukan shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada para Malaikat-Nya, 'Apa yang mendorong hamba-Ku melakukan ini?' Mereka menjawab, 'Wahai Rabb kami, ia melakukan ini karena mengharap apa yang ada di sisi-Mu dan takut dari apa yang ada di sisi-Mu pula.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan.” (HR. Ahmad).
Dari Nu’aim bin Hammar: “Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Syuhadaa’ apa yang paling utama?”. Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang apabila masuk di barisan perang/jihad, maka mereka akan memfokuskan wajah-wajah mereka hingga terbunuh. Mereka itulah orang-orang yang pergi menempati kamar-kamar di surga yang tinggi. Rabb mereka tersenyum kepada mereka. Dan apabila Rabb mu tersenyum kepada seorang hamba di dunia, maka ia kelak tidak akan dihisab.” (HR. Ahmad).
Mari kita luangkan satu jam di malam hari untuk membuat Allah tersenyum selagi kita hidup di dunia ini agar kita juga bisa terus tersenyum di dunia ini sampai datang masa kehidupan akhirat nanti. Kita sudah rela membuang waktu kita berjam-jam setiap hari untuk berbagai aktivitas kita yang lain, mengapa tidak meluangkan yang satu jam di waktu sahur ini untuk beribadah dan memohon pertolongan-Nya? InsyaAllah, kita bisa!
Sumber: Ditulis oleh Muhaimin Iqbal (dengan editing seperlunya)
Satu jam ekstra ini adalah waktu sahur untuk menunaikan shalat malam, waktu terbaik untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada-Nya. Bila kita rela membuang waktu kita beberapa jam setiap hari di jalan raya, mengapa kita tidak melakukannya secara sukarela menggunakan satu jam saja di waktu sahur untuk bangun, sholat, dan berdoa? Satu jam untuk shalat malam adalah waktu yang cukup untuk bisa menikmati rakaat demi rakaat dan sujud menghadap Sang Maha Pencipta di shalat malam kita. Waktu yang cukup untuk mengungkapkan segala kegalauan hati kita kepada-Nya, memohon pertolongan, dan solusi atas segala permasalahan hidup kita.
Pada umumnya, kita rela bangun lebih pagi dan pulang lebih malam untuk bisa memenuhi disiplin kerja kita di kantor dengan imbalan gaji bulanan dan bonus bagi kita serta karir untuk masa depan kita. Tetapi, kantor kita bisa saja tidak mampu memenuhi janji tersebut – tergantung kondisi perusahaan atau instansi tempat kita bekerja.
Di sisi lain, ada yang menjanjikan satu jam ekstra kita dengan janji yang pasti dipenuhi dan bukan hanya janji untuk kepentingan dunia saja melainkan juga hingga kepentingan akhirat kita – jaminan karir dunia akhirat! Karena yang berjanji adalah Dia Yang Maha Menepati Janji. Janji ini dikabarkan antara lain melalui hadits berikut: "Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam." (HR. Muslim)
Dalam sejarah, banyak bukti nyata yang menunjukkan telah dipenuhi janji-Nya kepada orang-orang yang secara konsisten melakukan shalat malam. Salahuddin Al-Ayyubi berani berangkat menaklukkan (kembali) Jerusalem dan berhasil – setelah dia mendapati pasukannya melakukan shalat malam di tenda-tendanya. Muhammad Al-Fatih tidak pernah meninggalkan shalat malamnya sejak dia baligh, sekitar separuh dari pasukannya-pun melakukan hal yang sama. Hasilnya adalah penaklukkan Konstantinopel dengan strategi perang yang tidak terbayangkan sebelumnya – bahkan sulit terulang untuk zaman modern ini sekalipun.
Kini, kita memang tidak sedang berperang secara fisik melawan siapapun, namun justru kondisi inilah yang membuat kita ‘kalah’ dalam berbagai ‘medan peperangan’ yang bersifat sistematis dan terselubung. Kita sedang ‘kalah’ dalam peperangan pemikiran dan budaya sehingga sebagian besar dari kita harus bekerja dengan irama yang membuat kita sulit untuk dapat menunaikan shalat lima waktu dengan khusyu’ dan tepat waktu. Bagaimana bisa shalat tepat waktu dengan khusyu’ bila waktu adzan Maghrib dan Isya’ masih di tengah kemacetan lalu lintas?
Kita ‘kalah’ dengan sistem kapitalisme ribawi yang mendominasi perekonomian kita sehingga untuk urusan jaminan sosial dan jaminan kesehatan para pekerja – mereka dipaksa secara hukum untuk menerima yang riba. Kita ‘kalah’ dalam perang ekonomi di mana sekitar separuh penduduk negeri ini berdaya beli kurang dari US$ 2 per hari. Padahal, kondisi ini baru sekitar 1/5 dari standar nishab zakat 40 ekor domba!
Ironisnya, kita juga ‘kalah’ dalam sistem demokrasi – yang seharusnya kita bisa dan mampu untuk memang, namun umat muslim yang banyak di negeri ini tidak dapat berbuat banyak bahkan demokrasi ini telah menjadi tragedi yang memecah belah umat menjadi banyak golongan. Umat bukan hanya dipecah antar partai, bahkan dalam satu partai-pun para pendukung caleg A bisa berpecah dengan pendukung caleg B. Jamaah shalat di masjid-masjid-pun menjadi kaku hubungan antar sesamanya di musim pemilu karena sebagian mendukung partai A dan sebagian yang lain Golput atau mendukung partai lain.
Dalam skala pribadi-pun kita lebih banyak ‘kalah’ dengan sistem yang ada ketika kita berusaha membangun usaha yang bebas riba, riswah, dan sejenisnya. Kita sering ‘kalah’ ketika berusaha membangun lingkungan kerja yang bersih dari apa-apa yang tidak diridloi-Nya. Maka banyak sekali ‘peperangan-peperangan’ yang masih harus kita menangkan, sedangkan kita amatlah lemah kecuali bila kita bisa menghadirkan pertolongan-Nya. Shalat malam adalah salah satu jalan yang dapat kita tempuh untuk menghadirkan pertolongan-Nya dalam setiap kesulitan dan jalan buntu yang kita temui.
Perencanaan kita terbatas dan usaha kita pun sulit untuk mencapai maksimal, maka hanya dengan kehadiran dan pertolonganNya-lah yang bisa menyempurnakan segala usaha kita. Bila untuk ini diperlukan 1 jam ekstra di waktu sahur, apakah terlalu berat? Apakah terlalu berat untuk membiasakan bangun dan shalat malam sekitar pukul tiga dini hari untuk satu jam saja, sedangkan kita punya begitu banyak waktu tidur di jam-jam yang lain? Kita bisa tidur dalam perjalanan pergi dan pulang kantor selama berjam-jam. Kita bisa juga membiasakan tidur satu jam lebih awal dari biasanya agar nanti bisa bangun pukul tiga dan dengan berbagai cara lain yang bisa kita tempuh untuk mendapatkan waktu satu jam ekstra yang amat sangat berharga tersebut.
Tidak hanya berharga untuk kehidupan kita di dunia, tetapi juga yang lebih utama tentu untuk kehidupan kita di waktu yang tidak terbatas – yaitu di akhirat kelak. Shalat malam kitalah yang insyaAllah bisa membuat Allah tersenyum. “Ketahuilah, sesungguhnya Allah tersenyum terhadap dua orang laki-laki: Seseorang yang bangun pada malam yang dingin dari ranjang dan selimutnya, lalu ia berwudhu’ dan melakukan shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada para Malaikat-Nya, 'Apa yang mendorong hamba-Ku melakukan ini?' Mereka menjawab, 'Wahai Rabb kami, ia melakukan ini karena mengharap apa yang ada di sisi-Mu dan takut dari apa yang ada di sisi-Mu pula.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan.” (HR. Ahmad).
Dari Nu’aim bin Hammar: “Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Syuhadaa’ apa yang paling utama?”. Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang apabila masuk di barisan perang/jihad, maka mereka akan memfokuskan wajah-wajah mereka hingga terbunuh. Mereka itulah orang-orang yang pergi menempati kamar-kamar di surga yang tinggi. Rabb mereka tersenyum kepada mereka. Dan apabila Rabb mu tersenyum kepada seorang hamba di dunia, maka ia kelak tidak akan dihisab.” (HR. Ahmad).
Mari kita luangkan satu jam di malam hari untuk membuat Allah tersenyum selagi kita hidup di dunia ini agar kita juga bisa terus tersenyum di dunia ini sampai datang masa kehidupan akhirat nanti. Kita sudah rela membuang waktu kita berjam-jam setiap hari untuk berbagai aktivitas kita yang lain, mengapa tidak meluangkan yang satu jam di waktu sahur ini untuk beribadah dan memohon pertolongan-Nya? InsyaAllah, kita bisa!
Sumber: Ditulis oleh Muhaimin Iqbal (dengan editing seperlunya)
Apa Sih Tolok Ukur Keberhasilan Rumah Tangga?
Sebagian besar masyarakat mengatakan, terdapat dua hal yang jika terjadi maka rumah tangga tersebut terbilang sukses, yakni mempunyai anak dan banyak harta.
Bukan. Bukan itu.
Pertama, rumah tangga 'Aisyah radhiallaahu 'anha tidak dikaruniai anak, lalu apakah kita akan berkata suami-istri tersebut tidak harmonis? Tidak bahagia?
Kedua, rumah tangga Fatimah radhiallaahu 'anha sangat minim harta. Sang istri pernah menahan laparnya selama beberapa hari hingga kuninglah wajah beliau. Lalu, apakah kita berani mengatakan bahwa rumah tangga mereka hancur berantakan diujung tombak? Tidak. Bahkan suami beliau adalah salah satu penghuni surga Allah. Maa syaa'Allah.
Benar, sebagai seorang istri janganlah dengan mudah untuk menuntut kalimat perpisahan hanya karena kedua hal di atas. Sebab, ummahatul mukminin tidak pernah memberatkan suaminya dengan perkataan tercela. Juga, sebagai seorang suami janganlah mudah mengatakan "Aku tak punya harta, aku tak pantas untukmu, duhai istriku". Innalillaahi wa inna ilayhi raaji'un. Tahu kah para suami, kalimat tersebut justeru enggan didengar oleh istri kalian. Karena dalam kondisi tersebut, para sahabat tidak tercermin dalam diri mereka sifat keputus-asaan.
Seyogyanya, tolok ukur keberhasilan rumah tangga seorang muslim ialah:
- Ketika setelah menikah, maka bertambahlah taqwa mereka kepada Allah.
- Ketika setelah menikah, maka bertambahlah amalan-amalan sunnah mereka.
- Ketika setelah menikah, bertambahlah hafalan-hafalan mereka.
- Ketika setelah menikah, bertambahlah kesabaran mereka dalam setiap takdir Allah.
- Ketika setelah menikah, bertambahlah ghiroh mendatangi majelis-majelis ilmu Allah.
- Pun, ketika setelah menikah, bertambah takutlah mereka sebab mengingat hari di mana mereka akan terpisah dan menghadap sidang Rabb-nya yang paling adil. Bertambah berharaplah mereka kepada Rabb-nya agar dapat dipertemukan dan dinikahkan kembali dalam jannah Allah tanpa hisab. Amin yaa Rabbal 'alamin.
Sumber: Grup WA (dengan bahasa yang disesuaikan)
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.
Bukan. Bukan itu.
Pertama, rumah tangga 'Aisyah radhiallaahu 'anha tidak dikaruniai anak, lalu apakah kita akan berkata suami-istri tersebut tidak harmonis? Tidak bahagia?
Kedua, rumah tangga Fatimah radhiallaahu 'anha sangat minim harta. Sang istri pernah menahan laparnya selama beberapa hari hingga kuninglah wajah beliau. Lalu, apakah kita berani mengatakan bahwa rumah tangga mereka hancur berantakan diujung tombak? Tidak. Bahkan suami beliau adalah salah satu penghuni surga Allah. Maa syaa'Allah.
Benar, sebagai seorang istri janganlah dengan mudah untuk menuntut kalimat perpisahan hanya karena kedua hal di atas. Sebab, ummahatul mukminin tidak pernah memberatkan suaminya dengan perkataan tercela. Juga, sebagai seorang suami janganlah mudah mengatakan "Aku tak punya harta, aku tak pantas untukmu, duhai istriku". Innalillaahi wa inna ilayhi raaji'un. Tahu kah para suami, kalimat tersebut justeru enggan didengar oleh istri kalian. Karena dalam kondisi tersebut, para sahabat tidak tercermin dalam diri mereka sifat keputus-asaan.
Seyogyanya, tolok ukur keberhasilan rumah tangga seorang muslim ialah:
- Ketika setelah menikah, maka bertambahlah taqwa mereka kepada Allah.
- Ketika setelah menikah, maka bertambahlah amalan-amalan sunnah mereka.
- Ketika setelah menikah, bertambahlah hafalan-hafalan mereka.
- Ketika setelah menikah, bertambahlah kesabaran mereka dalam setiap takdir Allah.
- Ketika setelah menikah, bertambahlah ghiroh mendatangi majelis-majelis ilmu Allah.
- Pun, ketika setelah menikah, bertambah takutlah mereka sebab mengingat hari di mana mereka akan terpisah dan menghadap sidang Rabb-nya yang paling adil. Bertambah berharaplah mereka kepada Rabb-nya agar dapat dipertemukan dan dinikahkan kembali dalam jannah Allah tanpa hisab. Amin yaa Rabbal 'alamin.
Sumber: Grup WA (dengan bahasa yang disesuaikan)
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.
Sunday, 6 April 2014
Tuhan, Takdir, dan Syaitan
Ada seorang pemuda yang mencari seorang guru agama, pemuka agama atau siapapun yang bisa menjawab tiga pertanyaannya. Akhirnya, sang pemuda itu menemukan seorang bijaksana. Dalam perakapan di bawah ini, Pemuda akan dinotasikan dengan P sementara Bijaksana dengan huruf B.
P : Anda siapa? Bisakah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
B : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya, saya akan menjawab pertanyaan Anda.
P : Anda yakin? Sedang profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
B : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.
P : Saya punya tiga buah pertanyaan.
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya!
2. Apakah yang dinamakan takdir?
3. Kalau syaitan diciptakan dari api, lalu kenapa dimasukkan ke neraka yang terbuat dari api juga? Tentu tidak menyakitkan buat syaitan sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berpikir sejauh itu?
Tiba-tiba, sang orang bijaksana tersebut menampar pipi si pemuda dengan keras.
P : (Sambil menahan sakit) Kenapa Anda marah kepada saya?
B : Saya tidak marah. Tamparan itu adalah jawaban saya atas tiga buah pertanyaan yang Anda ajukan.
P : Saya sungguh tidak mengerti.
B : Bagaimana rasanya tamparan saya?
P : Tentu saja saya merasa sakit.
B : Jadi, Anda percaya bahwa sakit itu ada?
P : Ya.
B : Tunjukkan pada saya wujud sakit itu!
P : Saya tidak bisa.
B : Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujud-Nya.
B : Apakah tadi malam Anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
P : Tidak.
B : Apakah pernah terpikirkan oleh Anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?
P : Tidak.
B : Itulah yang dinamakan takdir.
B : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar Anda?
P : Kulit.
B : Terbuat dari apa pipi Anda?
P : Kulit.
B : Bagaimana rasanya tamparan saya?
P : Sakit.
B : Walaupun syitan dan neraka sama-sama terbuat dari api, neraka tetap menjadi tempat yang menyakitkan untuk syitan.
Semoga kita dapat memetik hikmah dari percakapan singkat di atas.
Sumber: Facebook (dengan bahasa yang disesuaikan)
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.
P : Anda siapa? Bisakah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
B : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya, saya akan menjawab pertanyaan Anda.
P : Anda yakin? Sedang profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
B : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.
P : Saya punya tiga buah pertanyaan.
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya!
2. Apakah yang dinamakan takdir?
3. Kalau syaitan diciptakan dari api, lalu kenapa dimasukkan ke neraka yang terbuat dari api juga? Tentu tidak menyakitkan buat syaitan sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berpikir sejauh itu?
Tiba-tiba, sang orang bijaksana tersebut menampar pipi si pemuda dengan keras.
P : (Sambil menahan sakit) Kenapa Anda marah kepada saya?
B : Saya tidak marah. Tamparan itu adalah jawaban saya atas tiga buah pertanyaan yang Anda ajukan.
P : Saya sungguh tidak mengerti.
B : Bagaimana rasanya tamparan saya?
P : Tentu saja saya merasa sakit.
B : Jadi, Anda percaya bahwa sakit itu ada?
P : Ya.
B : Tunjukkan pada saya wujud sakit itu!
P : Saya tidak bisa.
B : Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujud-Nya.
B : Apakah tadi malam Anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
P : Tidak.
B : Apakah pernah terpikirkan oleh Anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?
P : Tidak.
B : Itulah yang dinamakan takdir.
B : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar Anda?
P : Kulit.
B : Terbuat dari apa pipi Anda?
P : Kulit.
B : Bagaimana rasanya tamparan saya?
P : Sakit.
B : Walaupun syitan dan neraka sama-sama terbuat dari api, neraka tetap menjadi tempat yang menyakitkan untuk syitan.
Semoga kita dapat memetik hikmah dari percakapan singkat di atas.
Sumber: Facebook (dengan bahasa yang disesuaikan)
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.
Nasehat Simbah tentang Sebuah Perjalanan
[Based on True Story]
Nasehat Simbah tentang Sebuah Perjalanan
Jember, Oktober 2013
Siang itu, Mas mengajakku berkunjung ke rumah Adik Mbah Uti. "Kita ke rumah Mbah Sis, ya Sayang.." Spontan, feeling excited. Mbah Sis adalah sosok simbah yang murah senyum, santun, dan sederhana. Ini akan menjadi pertemuan yang ketiga kalinya antara saya dengan beliau. Dua pertemuan sebelumnya saat walimah di Wonosobo dan Jember. Di moment itu, beliau memberikan banyak ilmu dan nasihat. Hingga saat ini, kata-kata beliau masih saya pegang dalam menjalani peran sebagai istri yang [selalu berusaha] shalihah. Kali ini pun saya yakin, Mbah akan kembali membekali kami dengan segudang ilmu lainnya.
Dan ternyata benar! Di rumah mungil itu, kami tidak hanya disuguhi dengan lezatnya empal, tetapi juga disuguhi cerita yang begitu sarat makna.
"Nak Zain, Vika.. Menikah itu ibarat berlayar menuju ke sebuah pulau. Sebelum menikah, kalian hanya bermain-main di pantai. Kalian tidak berhak menaiki kapal meskipun ia ada di hadapan kalian. Setelah janji suci terucap, langit bergetar, dan barulah Allah mengizinkan kalian menaiki kapal itu."
Beliau menghentikan kata-katanya, lalu menatapku.
"Nak, di kapal ini, suami adalah Nahkodamu. Dan kau, istri, adalah penumpang yang harus setia menemani sang Nahkoda."
Beliau berganti menatap kami berdua dan melanjutkan kata-katanya.
"Di awal perjalanan kalian hanya akan menerjang ombak-ombak kecil. Tidak sulit untuk lolos dari ombak-ombak itu. Akan tetapi, semakin kalian jauh dari pantai, maka akan semakin besar pula ombak yang harus kalian terjang. Bahkan badai pun siap menghajar kapal kalian!" Di sinilah kelihaian nahkoda diuji. Seberapa handal ia menyelamatkan keluarganya dari terjangan ombak dan badai yang tak jarang memporak-porandakan kapal. Di tengah hantaman itu, nahkoda harus mendapatkan dukungan penuh dari penumpangnya. Jangan jadi penumpang yang bawel, banyak protes! Tenang, sabar, dan qanaah.."
"Nak Zain, Vika. Untuk menghadapi masa-masa sulit itu, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dengan Shalat dan Al-Qur'an. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan, 'Hiasilah rumah-rumah kalian dengan Shalat dan bacaan Al-Qur'an.' Jangan tinggalkan shalat! Jangan tinggalkan Al-Qur'an! InsyaAllah sebesar apapun ujiannya, rumah tangga kalian akan selamat."
Cerita sederhana ini menghanyutkan kami. Seolah saat ini, kami sudah berada di atas kapal, mulai berlayar, dan semakin menjauh dari garis pantai. Entah sebesar apa ombak di depan sana. Entah seberapa kencang badai yang akan menerjang dan seberapa lama kami akan terus berada di atas kapal ini. Semua itu masih menjadi rahasia Illahi yang hanya akan terbuka saat 'masa' itu tiba. Kami berdiri menatap lautan luas, ketenangan ini hanya sementara, ujian pasti akan datang, dan syaitan siap memporak-porandakan kita. Tangan kami bergenggam erat, menyatukan tujuan dan harap. Jika ketenangan ini hanya sementara, maka ombak dan badai pun bukan sesuatu yang abadi!
Sambil meraih pundakku ia bertanya, "Kau siap, Sayang?"
Ku raih tangannya dan ku jawab,"InsyaAllah, Mas."
---
Terimakasih, Mbah. InsyaAllah akan selalu kami ingat pesan-pesan ini dan emoga juga bermanfaat bagi semuanya!
Sumber: Notes Facebook Vika Budi R (dengan bahasa yang disesuaikan)
Nasehat Simbah tentang Sebuah Perjalanan
Jember, Oktober 2013
Siang itu, Mas mengajakku berkunjung ke rumah Adik Mbah Uti. "Kita ke rumah Mbah Sis, ya Sayang.." Spontan, feeling excited. Mbah Sis adalah sosok simbah yang murah senyum, santun, dan sederhana. Ini akan menjadi pertemuan yang ketiga kalinya antara saya dengan beliau. Dua pertemuan sebelumnya saat walimah di Wonosobo dan Jember. Di moment itu, beliau memberikan banyak ilmu dan nasihat. Hingga saat ini, kata-kata beliau masih saya pegang dalam menjalani peran sebagai istri yang [selalu berusaha] shalihah. Kali ini pun saya yakin, Mbah akan kembali membekali kami dengan segudang ilmu lainnya.
Dan ternyata benar! Di rumah mungil itu, kami tidak hanya disuguhi dengan lezatnya empal, tetapi juga disuguhi cerita yang begitu sarat makna.
"Nak Zain, Vika.. Menikah itu ibarat berlayar menuju ke sebuah pulau. Sebelum menikah, kalian hanya bermain-main di pantai. Kalian tidak berhak menaiki kapal meskipun ia ada di hadapan kalian. Setelah janji suci terucap, langit bergetar, dan barulah Allah mengizinkan kalian menaiki kapal itu."
Beliau menghentikan kata-katanya, lalu menatapku.
"Nak, di kapal ini, suami adalah Nahkodamu. Dan kau, istri, adalah penumpang yang harus setia menemani sang Nahkoda."
Beliau berganti menatap kami berdua dan melanjutkan kata-katanya.
"Di awal perjalanan kalian hanya akan menerjang ombak-ombak kecil. Tidak sulit untuk lolos dari ombak-ombak itu. Akan tetapi, semakin kalian jauh dari pantai, maka akan semakin besar pula ombak yang harus kalian terjang. Bahkan badai pun siap menghajar kapal kalian!" Di sinilah kelihaian nahkoda diuji. Seberapa handal ia menyelamatkan keluarganya dari terjangan ombak dan badai yang tak jarang memporak-porandakan kapal. Di tengah hantaman itu, nahkoda harus mendapatkan dukungan penuh dari penumpangnya. Jangan jadi penumpang yang bawel, banyak protes! Tenang, sabar, dan qanaah.."
"Nak Zain, Vika. Untuk menghadapi masa-masa sulit itu, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dengan Shalat dan Al-Qur'an. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan, 'Hiasilah rumah-rumah kalian dengan Shalat dan bacaan Al-Qur'an.' Jangan tinggalkan shalat! Jangan tinggalkan Al-Qur'an! InsyaAllah sebesar apapun ujiannya, rumah tangga kalian akan selamat."
Cerita sederhana ini menghanyutkan kami. Seolah saat ini, kami sudah berada di atas kapal, mulai berlayar, dan semakin menjauh dari garis pantai. Entah sebesar apa ombak di depan sana. Entah seberapa kencang badai yang akan menerjang dan seberapa lama kami akan terus berada di atas kapal ini. Semua itu masih menjadi rahasia Illahi yang hanya akan terbuka saat 'masa' itu tiba. Kami berdiri menatap lautan luas, ketenangan ini hanya sementara, ujian pasti akan datang, dan syaitan siap memporak-porandakan kita. Tangan kami bergenggam erat, menyatukan tujuan dan harap. Jika ketenangan ini hanya sementara, maka ombak dan badai pun bukan sesuatu yang abadi!
Sambil meraih pundakku ia bertanya, "Kau siap, Sayang?"
Ku raih tangannya dan ku jawab,"InsyaAllah, Mas."
---
Terimakasih, Mbah. InsyaAllah akan selalu kami ingat pesan-pesan ini dan emoga juga bermanfaat bagi semuanya!
Sumber: Notes Facebook Vika Budi R (dengan bahasa yang disesuaikan)
Saturday, 5 April 2014
Pemuda, Lamaranmu Aku Tolak!
Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya. Melalui ta’aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk melanjutkannya menuju khitbah. Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain; ayah sang perempuan. Dan ini merupakan tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang sekarang amatlah berbeda. Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka menggenapkan agamanya.
Maka, di suatu pagi, di ruang tamu sebuah rumah, seorang lelaki muda menghadap seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’ sang perempuan muda dari sisinya.
“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang setengah baya.
“Iya, Pak,” jawab sang muda.
“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam?” tanya sang setengah baya sambil menunjuk si perempuan.
“Ya Pak, sangat mengenalnya,” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.
“Lamaranmu ku tolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak bisa. Aku tidak bisa mengizinkan pernikahan yang diawali dengan model seperti itu!” balas sang setengah baya.
Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu.”
“Lamaranmu ku tolak. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan. Aku tak mau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya. Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya, keras.
Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang lelaki muda. Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”
“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.
“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di Kampus,” jawab sang muda, percaya diri.
“Lamaranmu ku tolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo rumahku ini kan?”
“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.”
“Lamaranmu ku tolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur keluargamu?”
Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”
“Kamu lulusan mana?”
“Saya lulusan Teknik Elektro UGM, Pak. UGM itu salah satu kampus terbaik di Indonesia lho Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”
“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya saja tujuh tahun, IP-nya juga cuma dua koma Pak.”
“Lha, lamaranmu ya ku tolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik anak-anakmu kelak?”
Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”
“Jadi kamu sudah bekerja?”
“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera jualan produk saya, Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak bakal sempat memerhatikan keluargamu.”
“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku.”
“Lamaranmu tetap ku tolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja nggak becus begitu?”
Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”
“Rencananya maharmu apa?”
“Seperangkat alat shalat, Pak.”
“Lamaran mu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf.”
“Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang lima puluh juta, Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kau pikir aku itu matre dan menukar anakku dengan uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”
Bisikan, “Dia jago IT lho Pak”
“Kamu bisa apa itu, internet?”
“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net.”
“Lamaranmu ku tolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”
“Tapi saya ngenet cuma ngecek email saja kok Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter, Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”
Bisikan, “Tapi Ayah..”
“Kamu ke sini tadi naik apa?”
“Mobil Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya Riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.
“Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”
“Lamaranmu ku tolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini namanya payah. Memangnya anakku supir?”
Bisikan, “Ayahh..”
“Kamu merasa ganteng, ya?”
“Nggak Pak. Biasa saja kok”
“Lamaranmu ku tolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik ini.”
“Tapi Pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”
Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”
Sang setengah baya menatap wajah sang anak dan berganti menatap sang muda yang sudah menyerah pasrah.
“Nak, apa adakah yang engkau hafal dari Al Qur’an dan Hadits?”
Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga. Pun pada pokok soal ini, ia menyerah, jawabnya, “Pak, dari tiga puluh juz, saya cuma hafal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja. Hadits-pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”
Sang setengah baya tersenyum, “Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku masih tertatih.”
Mata sang muda ikut berkaca-kaca.
---
Semoga kita dapat mengambil hikmah atas percakapan singkat antara seorang pemuda dan sang ayah di atas dalam menentukan pasangan hidup sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Abu Hurairah – rhadiyallahu anhu – dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin”.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tidak ada hal yang paling bermanfaat bagi seorang mukmin setelah taqwa kepada Allah selain wanita shalihah, jika diperintah, ia menaatinya, jika dipandang, ia membuatnya bahagia/senang, jika bersumpah, ia memenuhi sumpahnya, jika ditinggal suaminya, ia menjaga diri dan harta suaminya.
Sumber: Facebook, Manajemen Mentoring Milist (dengan bahasa yang disesuaikan serta penambahan point kesimpulan)
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.
Maka, di suatu pagi, di ruang tamu sebuah rumah, seorang lelaki muda menghadap seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’ sang perempuan muda dari sisinya.
“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang setengah baya.
“Iya, Pak,” jawab sang muda.
“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam?” tanya sang setengah baya sambil menunjuk si perempuan.
“Ya Pak, sangat mengenalnya,” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.
“Lamaranmu ku tolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak bisa. Aku tidak bisa mengizinkan pernikahan yang diawali dengan model seperti itu!” balas sang setengah baya.
Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu.”
“Lamaranmu ku tolak. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan. Aku tak mau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya. Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya, keras.
Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang lelaki muda. Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”
“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.
“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di Kampus,” jawab sang muda, percaya diri.
“Lamaranmu ku tolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo rumahku ini kan?”
“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.”
“Lamaranmu ku tolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur keluargamu?”
Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”
“Kamu lulusan mana?”
“Saya lulusan Teknik Elektro UGM, Pak. UGM itu salah satu kampus terbaik di Indonesia lho Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”
“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya saja tujuh tahun, IP-nya juga cuma dua koma Pak.”
“Lha, lamaranmu ya ku tolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik anak-anakmu kelak?”
Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”
“Jadi kamu sudah bekerja?”
“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera jualan produk saya, Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak bakal sempat memerhatikan keluargamu.”
“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku.”
“Lamaranmu tetap ku tolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja nggak becus begitu?”
Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”
“Rencananya maharmu apa?”
“Seperangkat alat shalat, Pak.”
“Lamaran mu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf.”
“Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang lima puluh juta, Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kau pikir aku itu matre dan menukar anakku dengan uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”
Bisikan, “Dia jago IT lho Pak”
“Kamu bisa apa itu, internet?”
“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net.”
“Lamaranmu ku tolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”
“Tapi saya ngenet cuma ngecek email saja kok Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter, Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”
Bisikan, “Tapi Ayah..”
“Kamu ke sini tadi naik apa?”
“Mobil Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya Riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.
“Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”
“Lamaranmu ku tolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini namanya payah. Memangnya anakku supir?”
Bisikan, “Ayahh..”
“Kamu merasa ganteng, ya?”
“Nggak Pak. Biasa saja kok”
“Lamaranmu ku tolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik ini.”
“Tapi Pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”
Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”
Sang setengah baya menatap wajah sang anak dan berganti menatap sang muda yang sudah menyerah pasrah.
“Nak, apa adakah yang engkau hafal dari Al Qur’an dan Hadits?”
Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga. Pun pada pokok soal ini, ia menyerah, jawabnya, “Pak, dari tiga puluh juz, saya cuma hafal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja. Hadits-pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”
Sang setengah baya tersenyum, “Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku masih tertatih.”
Mata sang muda ikut berkaca-kaca.
---
Semoga kita dapat mengambil hikmah atas percakapan singkat antara seorang pemuda dan sang ayah di atas dalam menentukan pasangan hidup sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Abu Hurairah – rhadiyallahu anhu – dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin”.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tidak ada hal yang paling bermanfaat bagi seorang mukmin setelah taqwa kepada Allah selain wanita shalihah, jika diperintah, ia menaatinya, jika dipandang, ia membuatnya bahagia/senang, jika bersumpah, ia memenuhi sumpahnya, jika ditinggal suaminya, ia menjaga diri dan harta suaminya.
Sumber: Facebook, Manajemen Mentoring Milist (dengan bahasa yang disesuaikan serta penambahan point kesimpulan)
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.
Memahami Keluarga Sakinah
Catatan Kajian Keluarga Bulanan Masjid Universitas Indonesia
Kamis, 3 April 2014
"Memahami Keluarga Sakinah"
by: Bu Ery Soekresno
Pahami perbedaan psikologis antara laki-laki dan perempuan, yaitu:
LAKI-LAKI
1. Memiliki keinginan untuk belajar dan mengubah diri menjadi lebih baik dibandingkan perempuan
2. Lebih stabil pola emosinya
3. Memiliki standar lebih tinggi
4. Senang humor dan bercanda
5. Membutuhkan tantangan lebih besar
6. Lebih mudah bosan
7. Lebih mudah bahagia
PEREMPUAN
1. Cenderung egois
2. Mudah berkata jujur
3. Cenderung menyimpan perasaannya
Setiap keluarga yang dibangun mendambakan keluarga yang sakinah. Keluarga sakinah yakni setiap anggota keluarga merasa aman, penuh kasih sayang, dan terpenting dirahmati oleh Allah.
Hal ini penting karena:
1. Menggenapkan separuh agama
2. Menjaga keimanan
3. Jalan masuk surga
4. Dasar berjamaah
Ciri-ciri keluarga sakinah terdapat 4 hal yang menjadi faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga:
1. Suami atau istri yg setia
2. Anak-anak yang berbakti
3. Lingkungan sosial yang sehat
4. Dekat rezekinya (mudah berbagi)
Ciri lainnya:
- Cenderung pada agama
- Yang muda hormat pada yang lebih tua, sementara yang tua sayang pada yang lebih muda
- Sederhana dalam belanja
- Lemah lembut dalam bergaul
- QS Al-Baqarah: 187 (suami/istri adalah pakaian bagi pasangannya)
- Pergaulan suami-istri dengan cara yang ma'ruf
- Pasutri melaksanakan peran masing-masing karena Allah
- Semua anggota keluarga beriman dan bertaqwa kepada Allah, menyelesaikan permasalahan kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah
- Rezeki bersih dari yang haram
Tantangan hari ini:
1. Pola hidup modern
2. Khawatir ditertawakan oleh golongan fujaro dan malu disebut sebagai golongan abror
Kiat menuju keluarga sakinah:
1. Mulai dari mencari pasangan yang shalih atau shalihah, taat kepada perintah Allah dan sunnah Rasulullah.
2. Pilih pasangan yang memiliki keutamaan iman dan taqwa
3. Niat menikah untuk ibadah kepada Allah
4. Pasutri menjalankan kewajiban dengan dorongan iman, cinta, dan ibadah kepada Allah
5. Memahami kekurangan dan kelebihan pasangan, menghargai serta saling melengkapi
6. Mohon pada Allah agar menjadi keluarga samaraba
7. Jalan-jalan ke tempat bersejarah Islam untuk tingkatkan kecintaan pada Islam
8. Ketika menghadapi masalah, selalu memohon perlindungan kepada Allah dan selesaikan dengan jalan musyawarah (QS Al-Imron: 159)
Perempuan, sebelum menikah perlu siapkan diri sebagai istri dan ibu karena perempuan adalah kunci membangun peradaban.
Indonesia sampai saat ini adalah fatherless country, kurang optimalnya peran bapak, "ada tapi tiada". Jadi, bagi laki-laki, persiapkan diri agar menjadi ayah yang baik.
Sumber: WhatsApp Group
Kamis, 3 April 2014
"Memahami Keluarga Sakinah"
by: Bu Ery Soekresno
Pahami perbedaan psikologis antara laki-laki dan perempuan, yaitu:
LAKI-LAKI
1. Memiliki keinginan untuk belajar dan mengubah diri menjadi lebih baik dibandingkan perempuan
2. Lebih stabil pola emosinya
3. Memiliki standar lebih tinggi
4. Senang humor dan bercanda
5. Membutuhkan tantangan lebih besar
6. Lebih mudah bosan
7. Lebih mudah bahagia
PEREMPUAN
1. Cenderung egois
2. Mudah berkata jujur
3. Cenderung menyimpan perasaannya
Setiap keluarga yang dibangun mendambakan keluarga yang sakinah. Keluarga sakinah yakni setiap anggota keluarga merasa aman, penuh kasih sayang, dan terpenting dirahmati oleh Allah.
Hal ini penting karena:
1. Menggenapkan separuh agama
2. Menjaga keimanan
3. Jalan masuk surga
4. Dasar berjamaah
Ciri-ciri keluarga sakinah terdapat 4 hal yang menjadi faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga:
1. Suami atau istri yg setia
2. Anak-anak yang berbakti
3. Lingkungan sosial yang sehat
4. Dekat rezekinya (mudah berbagi)
Ciri lainnya:
- Cenderung pada agama
- Yang muda hormat pada yang lebih tua, sementara yang tua sayang pada yang lebih muda
- Sederhana dalam belanja
- Lemah lembut dalam bergaul
- QS Al-Baqarah: 187 (suami/istri adalah pakaian bagi pasangannya)
- Pergaulan suami-istri dengan cara yang ma'ruf
- Pasutri melaksanakan peran masing-masing karena Allah
- Semua anggota keluarga beriman dan bertaqwa kepada Allah, menyelesaikan permasalahan kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah
- Rezeki bersih dari yang haram
Tantangan hari ini:
1. Pola hidup modern
2. Khawatir ditertawakan oleh golongan fujaro dan malu disebut sebagai golongan abror
Kiat menuju keluarga sakinah:
1. Mulai dari mencari pasangan yang shalih atau shalihah, taat kepada perintah Allah dan sunnah Rasulullah.
2. Pilih pasangan yang memiliki keutamaan iman dan taqwa
3. Niat menikah untuk ibadah kepada Allah
4. Pasutri menjalankan kewajiban dengan dorongan iman, cinta, dan ibadah kepada Allah
5. Memahami kekurangan dan kelebihan pasangan, menghargai serta saling melengkapi
6. Mohon pada Allah agar menjadi keluarga samaraba
7. Jalan-jalan ke tempat bersejarah Islam untuk tingkatkan kecintaan pada Islam
8. Ketika menghadapi masalah, selalu memohon perlindungan kepada Allah dan selesaikan dengan jalan musyawarah (QS Al-Imron: 159)
Perempuan, sebelum menikah perlu siapkan diri sebagai istri dan ibu karena perempuan adalah kunci membangun peradaban.
Indonesia sampai saat ini adalah fatherless country, kurang optimalnya peran bapak, "ada tapi tiada". Jadi, bagi laki-laki, persiapkan diri agar menjadi ayah yang baik.
Sumber: WhatsApp Group
Thursday, 3 April 2014
Indahnya Hidup Jika Kita Memaknai Setiap Kejadian dengan Bijak dan Penuh Syukur
Berikut terdapat beberapa hal atau kondisi yang jika kita bisa memikirkannya dengan bijak, maka kita akan mampu mengarungi kehidupan ini dengan penuh makna dan luar biasa!
Akhirnya banyak hal yang dapat kita syukuri setiap hari. Berhentilah mengeluh dan mulailah untuk selalu bersyukur dan berpikiran positif di setiap kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Bersyukur dalam setiap keadaan meski tak ada alasan untuk bersyukur sekalipun.
Sumber: WhatsApp Group
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.
- Mendengar istri mengomel di rumah, berarti aku masih punya keluarga.
- Mendengar suami masih ngorok di sebelahku berarti aku masih punya suami.
- Mendengar ayah dan ibu menegurku dengan tegas berarti aku masih punya orang tua.
- Merasa lelah dan pegal linu setiap sore, itu berarti aku mampu bekerja keras.
- Membersihkan piring dan gelas kotor setelah menerima tamu di rumah, itu berarti aku punya teman.
- Pakaianku terasa agak sempit, itu berarti aku makan cukup.
- Mencuci dan menyetrika tumpukan baju, itu berarti aku memiliki pakaian.
- Membersihkan halaman rumah, jendela, memperbaiki talang dan selokan air, itu berarti aku memiliki tempat tinggal.
- Mendapatkan banyak tugas yang merepotkan, itu berarti aku dipercayai dapat melakukannya.
- Mendapatkan rekan kerja/bisnis yang mengesalkan menandakan karier/bisnis ku masih bergerak dan hidup.
- Mendapatkan banyak komplain dari customer kita, itu menandakan bahwa customer kita masih ada, masih loyal, dan menginginkan kita menuju perubahan ke arah yang lebih baik.
- Mendengar nyanyian suara yang fals, itu berarti kita masih bisa mendengar.
- Mendengar bunyi alarm di waktu shubuh, itu berarti aku masih hidup.
Akhirnya banyak hal yang dapat kita syukuri setiap hari. Berhentilah mengeluh dan mulailah untuk selalu bersyukur dan berpikiran positif di setiap kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Bersyukur dalam setiap keadaan meski tak ada alasan untuk bersyukur sekalipun.
Sumber: WhatsApp Group
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.
Perbedaan Asuransi Syariah dengan Asuransi Konvensional
Hasil Diskusi Grup Sharee 1
Perbedaan Asuransi Syariah dengan Asuransi Konvensional
Pertanyaan:
Tentang hukum Asuransi Syariah?
Apa bedanya Takaful Syariah dengan Prudensial Syariah?
Jawaban:
Bismillah. Kalau berdasarkan diskusi di atas, Mas Ican mengilustrasikan dengan konsep akad nikah. Kalau dalam resume ini saya mengilustrasikan dengan konsep potong ayam saja.
Ibarat ada 2 orang yang ke restoran ayam siap saji. Di counter 1, ayam dipotong dengan ucapan "bismillah" sementara di counter 2, ayam langsung dipotong saja. Outputnya sama. Sama-sama jadi ayam crispy dengan bumbu yang sama. Rasanya juga sama enaknya. Tapi karena proses yang berbeda di awal, itulah yang menjadi perbedaan yang fundamental. Garis halal dan haram ada di dalam akad itu. Kalau di akad nikah, menjadi halal memegang tangan lawan jenis yang bukan mahram, asal sudah ada lafadz "Ankahtu nikahaha bla bla bla..", kalau di restoran ayam, menjadi halal ayam yang dimakan, asal dipotong dengan lafadz basmallah.
Sederhana tapi penting.
Dalam fatwa DSN-MUI No.21 Tahun 2001. Akad dalam asuransi syariah adalah akad tolong menolong (ta'awun).
Dari sisi manajemen, dana yang terkumpul di asuransi konvensional menjadi milik perusahaan (masuk ke dalam Cost of Insurance, COI) sedangkan dana yang terkumpul di asuransi syariah menjadi milik nasabah dan dikelola dalam rekening terpisah. Dalam asuransi syariah, dana (premi nasabah) di bagi dalam dua rekening, dana tabarru' dan dana tabungan.
Ilustrasinya begini:
1. Dalam asuransi konvensional, premi nasabah langsung masuk ke rekening perusahaan. Nanti jika ada nasabah yang klaim, uang diambil dari rekening itu.
2. Di asuransi syariah, saat nasabah membayar uang premi, perusahaan asuransi langsung membaginya dalam dua rekening. Pertama di rekening tabarru'. Uang di rekening itu dipakai untuk uang ta'awun (saling tolong menolong sesama nasabah asuransi jika ada yang klaim). Kedua, uang nasabah digunakan untuk tabungan nasabah sendiri. Nanti akan dikembalikan jika tenggang waktu asuransi sudah habis.
Nah, terus kalau klaim nasabah lebih besar dari uang di rekening tabarru' bagaimana?
Perusahaan asuransi syariah wajib meminjamkan uang perusahaan untuk dana tabarru' nasabah tanpa bunga.
Nah, terus nanti dari mana perusahaan asuransi syariah mendapat pemasukan? Asuransi syariah mendapat pemasukan dari ujroh (komisi) dari jasa pengelolaan dana nasabah.
Lalu, kenapa sih uang yang kita setorkan ke dalam perusahaan asuransi, tidak bisa kita terima full saat periode waktu asuransi kita sudah habis dan kita tidak ada klaim?
Seperti yang diketahui, bahwa akad yang dipakai adalah akad ta'awun (tolong menolong). Perusahaan asuransi itu menghimpun dana para nasabah untuk membantu sesama nasabah lain jika terkena musibah. Makanya, jarang ada asuransi yang mengembalikan secara utuh uang nasabah jika sudah sampai jangka waktu asuransi yg disepakati dan tidak ada klaim.
Nah selain akad, pengelolaan dana, cara pembayaran klaim yang berbeda, pengambilan keuntungan perusahaan serta kepemilikan dana nasabah, ada lagi yang membedakan antara perusahaan asuransi konvensional dan syariah.
Badan Pengawas, dalam hal ini, perusahaan asuransi harus memiliki Dewan Pengawas Syariah untuk mengawasi tata kelola perusahaan. Apakah sudah sesuai dengan prinsip ekonomi Islam atau tidak? Sedangkan perusahaan asuransi konvensional tidak memiliki Dewan Pengawas Syariah.
Kemudian dari segi penempatan investasi saham juga jelas berbeda. Perusahaan asuransi konvensional bebas menentukan di mana mereka ingin menempatkan investasi di instrumen saham atau surat berharga. Sedangkan, perusahaan asuransi syariah harus menempatkan sahamnya di saham yang terdapat dalam list JII (Jakarta Islamic Index), DES (Daftar Efek Syariah) atau Sukuk, jika menempatkan investasi ke dalam instrumen surat berharga.
Apa perbedaan Takaful denga Prudential?
Spesifikasi produknya beda dan Perhitungan UP (Uang Pertanggungan) juga bisa berbeda. Bisa langsung bertanya ke bagian customer service masing-masing perusahaan.
Sebelum jadi nasabah asuransi pahami dulu dua hal tersebut dan perjanjian dalam polis. Ingat, asuransi seperti payung. Kita tidak pernah tahu kapan hujan turun. Tapi kalau sudah menbawa payung, jadi tidak kehujanan. Dan pastikan payung yang kita siapkan sesuai dengan bentuk badan kita. Jangan sampai kekecilan, begitu juga dengan asuransi. Cari asuransi yang sesuai dengan kebutuhan kita dengan mencari tahu terlebih dahulu spesifikasi produk, uang pertanggungan nasabah, dan isi perjanjian polis.
Semoga bermanfaat.
Sumber: WhatsApp Group SHAREE
Perbedaan Asuransi Syariah dengan Asuransi Konvensional
Pertanyaan:
Tentang hukum Asuransi Syariah?
Apa bedanya Takaful Syariah dengan Prudensial Syariah?
Jawaban:
Bismillah. Kalau berdasarkan diskusi di atas, Mas Ican mengilustrasikan dengan konsep akad nikah. Kalau dalam resume ini saya mengilustrasikan dengan konsep potong ayam saja.
Ibarat ada 2 orang yang ke restoran ayam siap saji. Di counter 1, ayam dipotong dengan ucapan "bismillah" sementara di counter 2, ayam langsung dipotong saja. Outputnya sama. Sama-sama jadi ayam crispy dengan bumbu yang sama. Rasanya juga sama enaknya. Tapi karena proses yang berbeda di awal, itulah yang menjadi perbedaan yang fundamental. Garis halal dan haram ada di dalam akad itu. Kalau di akad nikah, menjadi halal memegang tangan lawan jenis yang bukan mahram, asal sudah ada lafadz "Ankahtu nikahaha bla bla bla..", kalau di restoran ayam, menjadi halal ayam yang dimakan, asal dipotong dengan lafadz basmallah.
Sederhana tapi penting.
Dalam fatwa DSN-MUI No.21 Tahun 2001. Akad dalam asuransi syariah adalah akad tolong menolong (ta'awun).
Dari sisi manajemen, dana yang terkumpul di asuransi konvensional menjadi milik perusahaan (masuk ke dalam Cost of Insurance, COI) sedangkan dana yang terkumpul di asuransi syariah menjadi milik nasabah dan dikelola dalam rekening terpisah. Dalam asuransi syariah, dana (premi nasabah) di bagi dalam dua rekening, dana tabarru' dan dana tabungan.
Ilustrasinya begini:
1. Dalam asuransi konvensional, premi nasabah langsung masuk ke rekening perusahaan. Nanti jika ada nasabah yang klaim, uang diambil dari rekening itu.
2. Di asuransi syariah, saat nasabah membayar uang premi, perusahaan asuransi langsung membaginya dalam dua rekening. Pertama di rekening tabarru'. Uang di rekening itu dipakai untuk uang ta'awun (saling tolong menolong sesama nasabah asuransi jika ada yang klaim). Kedua, uang nasabah digunakan untuk tabungan nasabah sendiri. Nanti akan dikembalikan jika tenggang waktu asuransi sudah habis.
Nah, terus kalau klaim nasabah lebih besar dari uang di rekening tabarru' bagaimana?
Perusahaan asuransi syariah wajib meminjamkan uang perusahaan untuk dana tabarru' nasabah tanpa bunga.
Nah, terus nanti dari mana perusahaan asuransi syariah mendapat pemasukan? Asuransi syariah mendapat pemasukan dari ujroh (komisi) dari jasa pengelolaan dana nasabah.
Lalu, kenapa sih uang yang kita setorkan ke dalam perusahaan asuransi, tidak bisa kita terima full saat periode waktu asuransi kita sudah habis dan kita tidak ada klaim?
Seperti yang diketahui, bahwa akad yang dipakai adalah akad ta'awun (tolong menolong). Perusahaan asuransi itu menghimpun dana para nasabah untuk membantu sesama nasabah lain jika terkena musibah. Makanya, jarang ada asuransi yang mengembalikan secara utuh uang nasabah jika sudah sampai jangka waktu asuransi yg disepakati dan tidak ada klaim.
Nah selain akad, pengelolaan dana, cara pembayaran klaim yang berbeda, pengambilan keuntungan perusahaan serta kepemilikan dana nasabah, ada lagi yang membedakan antara perusahaan asuransi konvensional dan syariah.
Badan Pengawas, dalam hal ini, perusahaan asuransi harus memiliki Dewan Pengawas Syariah untuk mengawasi tata kelola perusahaan. Apakah sudah sesuai dengan prinsip ekonomi Islam atau tidak? Sedangkan perusahaan asuransi konvensional tidak memiliki Dewan Pengawas Syariah.
Kemudian dari segi penempatan investasi saham juga jelas berbeda. Perusahaan asuransi konvensional bebas menentukan di mana mereka ingin menempatkan investasi di instrumen saham atau surat berharga. Sedangkan, perusahaan asuransi syariah harus menempatkan sahamnya di saham yang terdapat dalam list JII (Jakarta Islamic Index), DES (Daftar Efek Syariah) atau Sukuk, jika menempatkan investasi ke dalam instrumen surat berharga.
Apa perbedaan Takaful denga Prudential?
Spesifikasi produknya beda dan Perhitungan UP (Uang Pertanggungan) juga bisa berbeda. Bisa langsung bertanya ke bagian customer service masing-masing perusahaan.
Sebelum jadi nasabah asuransi pahami dulu dua hal tersebut dan perjanjian dalam polis. Ingat, asuransi seperti payung. Kita tidak pernah tahu kapan hujan turun. Tapi kalau sudah menbawa payung, jadi tidak kehujanan. Dan pastikan payung yang kita siapkan sesuai dengan bentuk badan kita. Jangan sampai kekecilan, begitu juga dengan asuransi. Cari asuransi yang sesuai dengan kebutuhan kita dengan mencari tahu terlebih dahulu spesifikasi produk, uang pertanggungan nasabah, dan isi perjanjian polis.
Semoga bermanfaat.
Sumber: WhatsApp Group SHAREE
Teruntuk Anakku Tercinta
Berikut ada sepenggal percakapan antara seorang ayah dan putra(i)nya. Semoga para ayah (calon ayah) dapat mengambil hikmahnya.
Sang Anakpun tersenyum bangga mendengar apa yang dikatakan ayahnya.
Sambil memeluk anak itu..
Hikmahnya: Orang tua yang bijak tidak hanya berhasil menjadikan dirinya tempat bersandar, tetapi juga yang berhasil membuat sandaran itu tidak diperlukan.
Sumber: WhatsApp Group
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.
- Anak : "Ayah, ayah temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya sampai kenyang, maksudnya supaya nyamuk itu tidak akan menggigit anaknya. Apakah ayah akan melakukan hal yang sama?"
- Ayah : "Tidak, Nak.. Tetapi ayah akan mengusir nyamuk sepanjang malam supaya tidak menggigit siapapun!"
- Anak : "Oiya ayah, aku pernah membaca cerita tentang seorang Ayah yang rela tidak makan supaya anak-anaknya bisa makan sampai kenyang. Apakah ayah akan melakukan hal yang sama?"
- Ayah : "Tidak, Nak.. Ayah akan bekerja sekuat tenaga supaya kita semua bisa makan dengan kenyang dan kamu tidak harus sulit menelan makanan karena merasa tidak tega melihat ayahmu sedang menahan lapar"
Sang Anakpun tersenyum bangga mendengar apa yang dikatakan ayahnya.
- Anak : "Kalau begitu, aku boleh selalu menyandarkan diriku kepada ayah, ya?"
Sambil memeluk anak itu..
- Ayah : "Tidak, Nak.. Ayah akan mengajarimu berdiri kokoh di atas kakimu sendiri, supaya engkau tidak harus jatuh tersungkur ketika suatu saat ayah harus pergi meninggalkanmu."
Hikmahnya: Orang tua yang bijak tidak hanya berhasil menjadikan dirinya tempat bersandar, tetapi juga yang berhasil membuat sandaran itu tidak diperlukan.
Sumber: WhatsApp Group
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.
Masih Ragukah Akan Janji-Nya?
Banyak yang percaya pada janji manusia, tetapi masih ragu dengan janji Tuhan-nya...
Dikutip dari: Kang Bashori (@motivatorjoss)
- Janji-Nya rizki melimpah dengan banyak sedekah, tapi faktanya banyak tak melakukannya
- Janji-Nya rizki tercukupi jika menikah yang diridhoi, tapi banyak muda-mudi tak peduli
- Janji-Nya rizki membanjiri jika dhuha kita tegap berdiri, tapi banyak yang tak menuruti
- Janji-Nya derajat naik lebih tinggi jika sepertiga malam tahajud ingat Illahi, tapi asyik saja rebahkan diri
- Janji-Nya 9 dari 10 pintu rizki dari bisnis, tapi masih saja sinis dan miris bahwa bisnis sendiri akan berbuah manis
- Janji-Nya kegelisahan akan disetor pada mereka yang hartanya kotor, tapi masih saja berani koruptor
- Janji-Nya semua urusan akan dipermudah saat bantu kesulitan ummah, tapi masih saja suka mempersusah urusan orang-orang lemah
- Janji-Nya derajat orang berilmu terangkat, tapi masih saja malas belajar selalu disemat
- Janji-Nya silaturahim datangkan rizki, tapi nyatanya masih dijauhi bahkan putuskan relasi
- Janji-Nya kerja tim (jamaah) hasilnya begitu luar biasa, tapi banyak yang sendiri kerjakan satu-satu sehingga hasilnya tetap itu-itu
Dikutip dari: Kang Bashori (@motivatorjoss)
Islam dan Kemenangan
Sejak lebih dari setengah abad yang lalu, umat Islam ditimpa bencana kekalahan bertubi-tubi. Kebanyakan orang lupa tentang sebab-sebab kekalahan dan musibah ini. Padahal Allah berfirman:
“Artinya: Katakanlah: Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri” [Ali Imran: 165]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Artinya: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [Asy-Syura: 30]
Seandainya umat kita, baik penguasa maupun rakyat, mau menghayati Kitab Allah kemudian mengamalkan hukum-hukum serta hikmah-hikmahnya, niscaya mereka akan melakukan upaya-upaya untuk menang melawan musuh-musuhnya. Dan niscaya pula akan mengetahui sunatullah terhadap mahluk-Nya, yang tidak pernah berubah, berganti dan bergeser sepanjang masa.
Faktor-faktor menang melawan musuh, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Allah, banyak, di antaranya:
1. TAUHID, IMAN SHALIH
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh-sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku” [An-Nur: 55]
2. SIAPA YANG MENOLONG AGAMA ALLAH, NISCAYA ALLAH AKAN MENOLONGNYA
Menolong agama Allah ialah:
[a] Dengan menegakkan syari’at-Nya dan mengikuti petunjuk Nabi-Nya, untuk mewujudkan peribadatan hanya kepada Allah, menghidupkan sunnah serta mematikan dan memberantas bid’ah.
[b] Dengan memberikan loyalitas kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah serta memberikan permusuhan kepada pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah.
[c] Dengan melaksanakan amar ma’ruf-nahi mungkar serta jihad melawan musuh-musuh Allah di manapun mereka berada.
[d] Menolong agama Allah ialah dengan mentaati Allah dan Rasul-Nya; menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya serta meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Artinya: Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” [Al-Hajj: 160]
Orang yang demikian keadaannya, niscaya tidak akan dapat dikalahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Artinya: Jika Allah menolong kamu, maka tak ada-lah orang yang dapat mengalahkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu?” [Ali Imran: 160]
3. SABAR DAN TAQWA ADALAH SEBAB DATANGNYA PERTOLONGAN DAN BANTUAN ALLAH
Sesungguhnya Allah telah menjanjikan orang yang bersabar dan bertaqwa untuk memberikan pertolongan, kemenangan, bantuan, keberuntungan dan punahnya tipu daya musuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertaqwa, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) mu” [Ali-Imran: 125-126]
“Artinya: Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka tidak sedikitpun mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan” [Ali-Imran: 120]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya: Ketahuilah bahwa jalan keluar disertai kesulitan, bahwa kemenangan disertai kesabaran dan sesungguhnya bersama kesukaran terdapat kemudahan” [Hadits shahih seperti dikatakan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Iqazh Al-Hinam Muntaqa Jami'al-Ulum wa Hikam, hal. 280, diriwayatkan oleh Ahmad, Abd bin Humaid]
4. SETIAP ORANG YANG TERANIAYA [DIZALIMI] MENDAPAT JANJI PERTOLONGAN DARI ALLAH, APALAGI JIKA IA SEORANG MUKMIN YANG BERTAQWA
Itu karena kezaliman adalah kegelapan. Allah telah mengharamkan kezaliman pada diri-Nya, dan Dia telah menjadikan kezaliman itu haram bagi mahluk-Nya. Allah memerintahkan supaya memberi pertolongan kepada orang yang dizalimi. Allah menjadikan do’anya orang yang terzalimi (teraniya) makbul dan tidak ada penghalang yang menutupi do’a itu dari Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesunguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu” [Al-Hajj: 39]
“Artinya: Demikianlah, dan barang siapa membalas seimbang dengan penganiyayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya” [Al-Hajj: 60]
Terdapat pula riwayat bahwa Allah pada hari kiamat akan meng-qishas kambing yang bertanduk karena menganiaya kambing yang tidak bertanduk. [Hadits Riwayat Tirmidzi ini merupakan sempurnanya keadilan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terhadap binatang saja demikian, apalagi terhadap suatu masyarakat yang dikucilkan, diusir dari negerinya sendiri, dilarang menggunakan senjata untuk melakukan perlawanan terhadap musuhnya dan tempat tinggalnya di pencar-pencar].
5. MENGIKUTI AGAMA SECARA BENAR DIJANJIKAN MENDAPAT PERTOLONGAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Dialah (Allah) yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an/ilmu yang bermanfaat) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai” [At-Taubah: 33]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya: Sungguh-sungguh perkara (Islam) ini akan mencapai apa yang dicapai oleh malam dan siang. Dan tidak akan tersisa sebuah rumah tembok pun, tidak pula rumah ilalang pun kecuali Allah akan masukkan agama ini ke dalamnya; dengan kemulian orang mulia atau dengan kehinaan orang hina. Kemuliaan yang Allah muliakan Islam dengannya (orang mulia tersebut), dan kehinaan yang Allah hinakan kekafiran dengan orang hina tersebut” [Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Bisran, Thabrani, Ibnu Mandah, Al-Hafidz Abdul Ghani Al-Naqdisi, Al-Hakim, dan lain-lainnya. Lihat Silsilah Shahihah No. 3]
Ini adalah janji yang termuat dalam Kitab Allah dan tertuangkan melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janji Allah tidak mungkin diingkari, sebab Allah tidak mengingkari janji.
6. PERSELISIHAN ADALAH SEBAB KEGENTARAN DAN KEKALAHAN
Umat Islam tidak mengalami kekahan kecuali karena pertentangan dan perpecahan mereka. Seandainya mereka bersatu padu dalam kalimat tauhid, bersatu bahasanya, sama-sama berpegang teguh pada tali Allah, berjihad melawan musuh-musuhnya untuk menjunjung tinggi kalimat Allah dan menegakkan tauhidullah serta memberantas habis kemusyrikan, niscaya Allah menolongnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Dan janganlah kamu saling bertentangan (berbantah-bantahan), yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang sabar” [Al-Anfal: 46]
7. MELAKUKAN PERSIAPAN UNTUK BERPERANG; MORIL MAUPUN MATERIIL
Yaitu dengan melakukan upaya-upaya sesuai dengan Sunnah Nabawiyah yang telah ditempuh oleh para nabi, padahal para nabi adalah orang-orang yang sangat jujur dan tawakkal kepada Allah. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah muncul dengan mengenakan dua buah baju zirah dalam salah satu pertempuran, beliau juga memakai pelindung kepala dalam peperangan.
Demikian pula para sahabatnya pun mengenakan baju zirah yang menyelimuti seluruh tubuh. Dan ini semua tidak menghilangkan tawakkal kepada Allah Subahanhu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sangggupi dan kuda-kuda yang ditambat untuk berperang” [Al-Anfal: 60]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menafsirkan ayat di atas dengan sabdanya.
“Artinya: Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah melepaskan anak panah (menepatkan sasaran -pen). Ketahuilah bahwa kekuatan adalah melepaskan anak panah (menepatkan sasaran -pen)" [Hadits Riwayat Muslim]
(Demikianlah) kita memohon kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala agar Dia memberikan taufiq kepada kita untuk melakukan usaha-usaha ke arah kemenangan melawan kaum Yahudi dan melawan semua musuh Islam lainnya. Pada hari kemenangan itulah, kaum mukminin bergembira ria mendapat pertolongan Allah. Dan itu tidaklah sulit bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sumber: Disalin dari Majalah Al-Ashalah Edisi 30/Th. V/15 Syawal 1421 H. Sebuah tulisan yang merupakan kata penutup redaksi Al-Ashalah, Disalin ulang dari Majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun V/1422 H/2001 M hal. 26-28, Penerjemah Ahmas Faiz Asifuddin.
“Artinya: Katakanlah: Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri” [Ali Imran: 165]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Artinya: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [Asy-Syura: 30]
Seandainya umat kita, baik penguasa maupun rakyat, mau menghayati Kitab Allah kemudian mengamalkan hukum-hukum serta hikmah-hikmahnya, niscaya mereka akan melakukan upaya-upaya untuk menang melawan musuh-musuhnya. Dan niscaya pula akan mengetahui sunatullah terhadap mahluk-Nya, yang tidak pernah berubah, berganti dan bergeser sepanjang masa.
Faktor-faktor menang melawan musuh, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Allah, banyak, di antaranya:
1. TAUHID, IMAN SHALIH
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh-sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku” [An-Nur: 55]
2. SIAPA YANG MENOLONG AGAMA ALLAH, NISCAYA ALLAH AKAN MENOLONGNYA
Menolong agama Allah ialah:
[a] Dengan menegakkan syari’at-Nya dan mengikuti petunjuk Nabi-Nya, untuk mewujudkan peribadatan hanya kepada Allah, menghidupkan sunnah serta mematikan dan memberantas bid’ah.
[b] Dengan memberikan loyalitas kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah serta memberikan permusuhan kepada pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah.
[c] Dengan melaksanakan amar ma’ruf-nahi mungkar serta jihad melawan musuh-musuh Allah di manapun mereka berada.
[d] Menolong agama Allah ialah dengan mentaati Allah dan Rasul-Nya; menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya serta meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Artinya: Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” [Al-Hajj: 160]
Orang yang demikian keadaannya, niscaya tidak akan dapat dikalahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Artinya: Jika Allah menolong kamu, maka tak ada-lah orang yang dapat mengalahkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu?” [Ali Imran: 160]
3. SABAR DAN TAQWA ADALAH SEBAB DATANGNYA PERTOLONGAN DAN BANTUAN ALLAH
Sesungguhnya Allah telah menjanjikan orang yang bersabar dan bertaqwa untuk memberikan pertolongan, kemenangan, bantuan, keberuntungan dan punahnya tipu daya musuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertaqwa, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) mu” [Ali-Imran: 125-126]
“Artinya: Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka tidak sedikitpun mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan” [Ali-Imran: 120]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya: Ketahuilah bahwa jalan keluar disertai kesulitan, bahwa kemenangan disertai kesabaran dan sesungguhnya bersama kesukaran terdapat kemudahan” [Hadits shahih seperti dikatakan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Iqazh Al-Hinam Muntaqa Jami'al-Ulum wa Hikam, hal. 280, diriwayatkan oleh Ahmad, Abd bin Humaid]
4. SETIAP ORANG YANG TERANIAYA [DIZALIMI] MENDAPAT JANJI PERTOLONGAN DARI ALLAH, APALAGI JIKA IA SEORANG MUKMIN YANG BERTAQWA
Itu karena kezaliman adalah kegelapan. Allah telah mengharamkan kezaliman pada diri-Nya, dan Dia telah menjadikan kezaliman itu haram bagi mahluk-Nya. Allah memerintahkan supaya memberi pertolongan kepada orang yang dizalimi. Allah menjadikan do’anya orang yang terzalimi (teraniya) makbul dan tidak ada penghalang yang menutupi do’a itu dari Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesunguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu” [Al-Hajj: 39]
“Artinya: Demikianlah, dan barang siapa membalas seimbang dengan penganiyayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya” [Al-Hajj: 60]
Terdapat pula riwayat bahwa Allah pada hari kiamat akan meng-qishas kambing yang bertanduk karena menganiaya kambing yang tidak bertanduk. [Hadits Riwayat Tirmidzi ini merupakan sempurnanya keadilan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terhadap binatang saja demikian, apalagi terhadap suatu masyarakat yang dikucilkan, diusir dari negerinya sendiri, dilarang menggunakan senjata untuk melakukan perlawanan terhadap musuhnya dan tempat tinggalnya di pencar-pencar].
5. MENGIKUTI AGAMA SECARA BENAR DIJANJIKAN MENDAPAT PERTOLONGAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Dialah (Allah) yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an/ilmu yang bermanfaat) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai” [At-Taubah: 33]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya: Sungguh-sungguh perkara (Islam) ini akan mencapai apa yang dicapai oleh malam dan siang. Dan tidak akan tersisa sebuah rumah tembok pun, tidak pula rumah ilalang pun kecuali Allah akan masukkan agama ini ke dalamnya; dengan kemulian orang mulia atau dengan kehinaan orang hina. Kemuliaan yang Allah muliakan Islam dengannya (orang mulia tersebut), dan kehinaan yang Allah hinakan kekafiran dengan orang hina tersebut” [Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Bisran, Thabrani, Ibnu Mandah, Al-Hafidz Abdul Ghani Al-Naqdisi, Al-Hakim, dan lain-lainnya. Lihat Silsilah Shahihah No. 3]
Ini adalah janji yang termuat dalam Kitab Allah dan tertuangkan melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janji Allah tidak mungkin diingkari, sebab Allah tidak mengingkari janji.
6. PERSELISIHAN ADALAH SEBAB KEGENTARAN DAN KEKALAHAN
Umat Islam tidak mengalami kekahan kecuali karena pertentangan dan perpecahan mereka. Seandainya mereka bersatu padu dalam kalimat tauhid, bersatu bahasanya, sama-sama berpegang teguh pada tali Allah, berjihad melawan musuh-musuhnya untuk menjunjung tinggi kalimat Allah dan menegakkan tauhidullah serta memberantas habis kemusyrikan, niscaya Allah menolongnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Dan janganlah kamu saling bertentangan (berbantah-bantahan), yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang sabar” [Al-Anfal: 46]
7. MELAKUKAN PERSIAPAN UNTUK BERPERANG; MORIL MAUPUN MATERIIL
Yaitu dengan melakukan upaya-upaya sesuai dengan Sunnah Nabawiyah yang telah ditempuh oleh para nabi, padahal para nabi adalah orang-orang yang sangat jujur dan tawakkal kepada Allah. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah muncul dengan mengenakan dua buah baju zirah dalam salah satu pertempuran, beliau juga memakai pelindung kepala dalam peperangan.
Demikian pula para sahabatnya pun mengenakan baju zirah yang menyelimuti seluruh tubuh. Dan ini semua tidak menghilangkan tawakkal kepada Allah Subahanhu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sangggupi dan kuda-kuda yang ditambat untuk berperang” [Al-Anfal: 60]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menafsirkan ayat di atas dengan sabdanya.
“Artinya: Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah melepaskan anak panah (menepatkan sasaran -pen). Ketahuilah bahwa kekuatan adalah melepaskan anak panah (menepatkan sasaran -pen)" [Hadits Riwayat Muslim]
(Demikianlah) kita memohon kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala agar Dia memberikan taufiq kepada kita untuk melakukan usaha-usaha ke arah kemenangan melawan kaum Yahudi dan melawan semua musuh Islam lainnya. Pada hari kemenangan itulah, kaum mukminin bergembira ria mendapat pertolongan Allah. Dan itu tidaklah sulit bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sumber: Disalin dari Majalah Al-Ashalah Edisi 30/Th. V/15 Syawal 1421 H. Sebuah tulisan yang merupakan kata penutup redaksi Al-Ashalah, Disalin ulang dari Majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun V/1422 H/2001 M hal. 26-28, Penerjemah Ahmas Faiz Asifuddin.
Belajarlah Kemuliaan dari Siapa Saja, Termasuk dari Malaikat Allah
Belajarlah kemuliaan dari siapa saja yang dapat diteladani, tak hanya dari para nabi dan manusia-manusia suci (auliya'), tetapi kita juga dapat belajar banyak hal dari kemuliaan para malaikat-malaikat yang suci.
Belajarlah dari Malaikat Pendistribusi Rezeki, Miikail (as) bahwa yang utama bukan apa-apa yang kita tumpuk dan simpan melainkan seberapa banyak yang bisa kita bagi-bagikan dari curahan rezeki-Nya kepada yang membutuhkan dengan ikhlas dan bijaksana.
Belajarlah dari Malaikat Penyebar Wahyu dan Ilmu Pengetahuan, Jibril (as) bahwa yang utama bukanlah apa-apa yang kita ketahui dan pelajari malainkan seberapa banyak yang telah kita sebarkan tentang pengetahuan- pengetahuan ruhaniyyah itu dengan jujur, santun, dan (dengan) bahasa sederhana demi kesejahteraan dan kebahagiaan lahir-batin banyak manusia.
Belajarlah dari Malaikat Peniup Sangkakala, Israafil "Yang Membakar" (as) bahwa yang utama bukanlah tugas dan tanggung jawab atas apa yang dipercayakan Sang Pencipta kepada kita melainkan sudahkah kita melaksanakan dan memenuhi itu semua dengan sebaik-baiknya.
Belajarlah dari Malaikat Kepala Penjaga Neraka, Maalik (as) bahwa yang utama bukan kapan dan dosa-dosa apa yang manusia perbuat melainkan sudahkah bertobat atas segala dosa karena segala sesuatunya kelak akan dimintai pertanggung-jawaban.
Belajarlah dari Malaikat Kepala Penjaga Surga, Ridhwan (as) bahwa yang utama bukanlah seberapa banyak amalan manusia melainkan seberapa ikhlas-kah manusia beramal karena amal yang ternodai oleh riya' dan ujub tertolak kembali ke dunia. Dan, hanya amal-amalan yang sepenuhnya ikhlas diamalkannya yang diridhoi-Nya, terangkat, dan kelak akan menerima balasannya.
Belajarlah dari Malaikat Pencabut Nyawa, 'Izraail (as) bahwa yang utama bukanlah oleh apa dan bagaimana kita akan mati malainkan sudahkah kondisi jiwa kita muthma'innah (tentram), radhiyyah (ridho), dan mardhiyyah (diridhoi Allah) jika sudah maka kapan, di mana, dan dalam kondisi apa kita dimatikan bukan lagi menjadi masalah yang menghantui, mengelisahkan, dan mengerdilkan jiwa.
Salam sejahtera atas malaikat-malaikat yang membimbing orang-orang yang beriman.
*Disarikan dari Catatan Harian Membuka Hati
Mas Yos Wiyoso Hadi, Pegawai Negeri di Ditjen Pajak, Depkeu RI
Belajarlah dari Malaikat Pendistribusi Rezeki, Miikail (as) bahwa yang utama bukan apa-apa yang kita tumpuk dan simpan melainkan seberapa banyak yang bisa kita bagi-bagikan dari curahan rezeki-Nya kepada yang membutuhkan dengan ikhlas dan bijaksana.
Belajarlah dari Malaikat Penyebar Wahyu dan Ilmu Pengetahuan, Jibril (as) bahwa yang utama bukanlah apa-apa yang kita ketahui dan pelajari malainkan seberapa banyak yang telah kita sebarkan tentang pengetahuan- pengetahuan ruhaniyyah itu dengan jujur, santun, dan (dengan) bahasa sederhana demi kesejahteraan dan kebahagiaan lahir-batin banyak manusia.
Belajarlah dari Malaikat Peniup Sangkakala, Israafil "Yang Membakar" (as) bahwa yang utama bukanlah tugas dan tanggung jawab atas apa yang dipercayakan Sang Pencipta kepada kita melainkan sudahkah kita melaksanakan dan memenuhi itu semua dengan sebaik-baiknya.
Belajarlah dari Malaikat Kepala Penjaga Neraka, Maalik (as) bahwa yang utama bukan kapan dan dosa-dosa apa yang manusia perbuat melainkan sudahkah bertobat atas segala dosa karena segala sesuatunya kelak akan dimintai pertanggung-jawaban.
Belajarlah dari Malaikat Kepala Penjaga Surga, Ridhwan (as) bahwa yang utama bukanlah seberapa banyak amalan manusia melainkan seberapa ikhlas-kah manusia beramal karena amal yang ternodai oleh riya' dan ujub tertolak kembali ke dunia. Dan, hanya amal-amalan yang sepenuhnya ikhlas diamalkannya yang diridhoi-Nya, terangkat, dan kelak akan menerima balasannya.
Belajarlah dari Malaikat Pencabut Nyawa, 'Izraail (as) bahwa yang utama bukanlah oleh apa dan bagaimana kita akan mati malainkan sudahkah kondisi jiwa kita muthma'innah (tentram), radhiyyah (ridho), dan mardhiyyah (diridhoi Allah) jika sudah maka kapan, di mana, dan dalam kondisi apa kita dimatikan bukan lagi menjadi masalah yang menghantui, mengelisahkan, dan mengerdilkan jiwa.
Salam sejahtera atas malaikat-malaikat yang membimbing orang-orang yang beriman.
*Disarikan dari Catatan Harian Membuka Hati
Mas Yos Wiyoso Hadi, Pegawai Negeri di Ditjen Pajak, Depkeu RI
Subscribe to:
Posts (Atom)







