Showing posts with label Muslim Notes. Show all posts
Showing posts with label Muslim Notes. Show all posts

Saturday, 22 November 2014

Berlomba Membangun Masjid Megah Tapi Tak Berpenghuni

(Pict by Merdeka.com)

Gresik, 22 November 2014. Semoga tulisan di pagi ini bisa menggambarkan sedikit tentang kondisi masyarakat kita saat ini berdasarkan kacamata seorang awam dan masih minim ilmu ini. Pagi ini, alhamdulillah udara pagi kota Gresik dapat dihirup dengan bebas, dapat merasakan dinginnya air yang menyusup ke pori-pori kulit, dapat merasakan semua hal yang biasa dilakukan di pagi hari. Bagaimana dengan Anda? Jika Anda menemui dan sedang membaca tulisan ini, itu artinya, kita semua masih diberikan nikmat hidup oleh Allah. Bagaimana dengan besok? 1 jam yang akan datang? 5 menit yang akan datang? Adakah yang menjamin kita masih diberikan nikmat hidup? Hanya Allah lah yang tahu.

Kembali ke kondisi pagi hari ini, seperti biasa sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk bertemu dan bercengkerama dengan Tuhan yang telah menciptakan kita setidaknya lima kali dalam hitungan 24 jam.

Saya menulis ini secara spontan, melihat apa yang terjadi di masyarakat dewasa ini. Mohon dikoreksi jika salah. Berikut beberapa hal yang cukup membuat hati ini ingin menangis, kenapa? Saya tidak perlu menjawabnya, silakan masing-masing individu yang menjawab dari lubuk hati kita sebagai seorang muslim
  • Negeri kita merupakan penduduk muslim terbesar, namun di tempat kerja kita, berapa banyak seorang muslim yang tidak dapat menunaikan ibadah shalat tepat waktu? Atau bahkan lalai akan shalatnya.
  • Negeri kita merupakan penduduk muslim terbesar, namun di tempat kita, berapa banyak seorang muslim yang tak mampu pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah? Terlebih lagi di kala Shubuh.
  • Negeri kita memiliki banyak masjid yang megah nan agung, tapi berapa banyak yang shaf dalam shalat yang bisa lebih dari 2 shaf?
  • Negeri kita merupakan penduduk muslim terbesar, namun berapa banyak dari kita yang hatinya tak terpaut dengan masjid dan Al-qur'an?
  • Negeri kita merupakan penduduk muslim terbesar, namun berapa banyak dari kita yang tak mampu membaca lembaran mushaf Al-quran, terlebih lagi memahaminya.
  • Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Fenomenaa inilah yang akhirnya membuat seorang yang awam ini mencari tahu tentang beberapa hadits yang menerangkan masalah ini, terutama tentang masjid, antara lain:

"Dari Anas (ia berkata), telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak akan tegak hari kiamat sampai manusia bermegah-megah dalam membangun masjid-masjidnya." (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud No: 449)

"Dari Ibnu Abbas, ia berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, aku tidak diperintah untuk memegahkan masjid-masjid. Ibnu Abbas berkata, niscaya kalian bermegah-megah terhadapnya sebagaimana bermegah-megahnya Yahudi dan Nashara." (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud No: 448)

Dua hadits di atas menunjukkan kepada kita akan kemukjizatan Nabi Muhammad SAW bahwa ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pasti benar dan pasti akan terjadi. Saat ini kita dapati kaum muslimin saling berlomba-lomba untuk membuat masjidnya terlihat megah. Meskipun tidak ada larangan yang jelas mengenai hal ini, namun hadits di atas sudah cukup jelas bagi kita untuk tidak melakukan perbuatan yang tidak disukai, yaitu menyerupai Yahudi dan Nashara.

Meskipun kebanyakan dari kita beralasan dengan dibuat megahnya masjid-masjid akan menambah khusyuk dan semangat dalam beribadah, akan tetapi tentunya kita dapat membedakan antara perbuatan yang sia-sia dengan perbuatan yang bermanfaat.

Dari kejadian yang terjadi saat ini merupakan salah satu tanda-tanda bahwa kiamat sudah dekat. Sebagai pengingat pribadi khususnya, dan mencoba untuk mengajak kepada siapapun muslim yang membaca tulisan ini, marilah kita tingkatkan iman dan ketaqwaan kita. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk senantiasa melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya dan turut serta diberikan kekuatan untuk memikirkan permasalahan sosial yang ada di lingkungan terdekat kita.

Terakhir, saya ingin berbagi tulisan dari Ust. Jafar Salih

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid.
Buktinya banyak orang kaya raya tidak sanggup mengerjakannya.
Jangankan sehari lima waktu, bahkan seminggu sekali pun terlupa.
Tidak jarang pula seumur hidup tidak pernah singgah ke sana.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid.
Karena orang pintarpun sering tidak mampu menemukannya. Walaupun mereka mampu mencari ilmu hingga kuliah di Universitas Eropa atau Amerika, dapat melangkahkan kaki ke Jepang dan Korea, dengan semangat yang membara. Namun ke masjid tetap saja perjalanan yang tidak mampu mereka tempuh walau telah bertitel S3.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid.
Karena para pemuda kuat dan bertubuh sehat yang mampu menaklukkan puncak gunung Bromo dan Merapi pun sering mengeluh ketika diajak ke masjid. Alasan mereka pun beragam, ada yang berkata sebentar lagi, ada yang berucap tidak nyaman dicap alim.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid.
Maka berbahagialah dirimu bila dari kecil engkau telah terbiasa melangkahkan kaki di masjid.
Karena bagi kami, sejauh manapun engkau melangkahkan kaki, tidak ada perjalanan yang paling kami banggakan selain perjalananmu ke masjid.

Biar kuberi tahu rahasia kepadamu, sejatinya perjalananmu ke masjid adalah perjalanan untuk menjumpai Rabb-mu. Dan itulah perjalanan yang diajarkan oleh Nabi, serta perjalanan yang akan membedakanmu dengan orang-orang yang lupa akan Rabb-nya.

Perjalanan terjauh dan terberat itu adalah perjalanan ke masjid.
Maka lakukanlah walau engkau harus merangkak dalam gelap shubuh demi mengenal Rabb-mu.

---

Semoga kita dimatikan oleh Allah dalam keadaan Islam dan khusnul khatimah, terlebih semoga kita mati dalam keadaan sedang bersujud (menunaikan shalat dan berbuat kebaikan), jangan sampai sebaliknya, mati dalam keadaan kufur berada di tempat yang tidak semestinya. Naudzubillah tsumma naudzubillah.

Sunday, 13 July 2014

Jangan Mendahului Takdir Allah SWT


(Pict by: waspada.co.id)

Dalam proses dan penyelenggaraan pesta demokrasi (Pemilu) yang paling utama gak boleh ngedahuluin takdir Allah Sang Penguasa Jagad Raya lho. Buat siapapun calonnya, klaim menang di quick count boleh, tapi jangan berlebihan (Allah tidak suka orang yang berlebih-lebihan, apalagi sudah memastikan diri). Masih ingat, Rasul aja pernah ditegur langsung oleh Allah karena saat ada sahabat yang bertanya kepada beliau, beliau langsung menjawab, "besok datang kembali ke sini untuk mengetahui jawabannya". Tapi, ternyata hingga beberapa hari, jawaban dari Allah tak kunjung datang. Dan, Allah SWT pun menegur beliau "Jangan sekali-kali memberikan kepastian tanpa menyebutkan InsyaAllah". *koreksi kalau redaksinya kurang tepat). Yang perlu diingat oleh kita semua, Allah gampang aja tuh mengubah takdir seseorang karena banyak faktor, bisa karena ujub ataupun takabbur. Bisa saja dari sample 2000 TPS-nya ternyata salah sample kan bisa, kenapa salah sample? Karena bisa saja kan ngambil sample di daerah A yang memang banyak didominasi oleh pendukung tersebut. Namanya kerjaannya manusia kan bisa atau bahkan sering salah dan lupa. Kalau Allah udah bilang Kun Faayakun, maka kalau pun seluruh penghuni langit dan bumi bersatu menolaknya, maka gak akan bisa. Prefer, sebagai negarawan yang baik, alangkah lebih elegant dan terhormatnya kalau menunggu hasil akhir (real count). Ingat ini buat siapapun itu!

Nah, emang yang kritis dan mau bersuara gak banyak. Tapi ini amanah rakyat..
Semoga siapapun yang jadi PRESIDEN-nya, kita mendapatkan pemimpin dari cara yang JUJUR dan berintegritas yang akhirnya terpilih sosok pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab demi kesejahteraan sebanyak-banyaknya rakyat dan segenap warga negara.

Ingat! Setelah terpilih BUKAN pesta yang menunggu kalian para pemimpin, tapi amanah dari lebih dari 240 JUTA PENDUDUK INDONESIA. Mungkin, boleh jadi kalian mengabaikan amanah rakyat di dunia, bisa memperjual-belikan keadilan di pengadilan, tapi ingat kehidupan dunia hanya sementara, nanti akan ada pertanggung-jawaban dan LPJ kepada Allah SWT dan Allah adalah SEADIL-ADILnya HAKIM.

Amin amin yaa Rabbal 'alamin..
Allohualam bisshowab..

Salam,
Hamba Allah yang penuh harap agar mendapatkan pemimpin yang AMANAH!

Perlakukan Bulan Istimewa dengan Istimewa


Tepat hari pertama bulan Ramadhan 1435H, saya menghadiri acara Milad Daarut Tauhiid Jakarta yang ke-15 di Masjid Istiqlal Jakarta. Suasana yang terasa sekali dengan nuansa Islam membuat hati ini terasa merinding terlebih ketika mendengar lantunan shalawat dan gema takbir dan juga momentum menyambut bulan suci Ramadhan hari yang pertama.

Pada acara tersebut, hadir banyak Kiai, 'Ulama, hingga tokoh nasional yang membaur jadi satu dalam acara tersebut salah satunya sang tuan rumah, KH. Abdullah Gymnastiar, Ustadz Bachtiar, dan banyak tokoh lainnya. Dalam kesempatan tersebut, banyak acara yang dilakukan, salah satunya adalah tausyiah singkat yang disajikan oleh Aa Gym. Di sini, saya akan share beberapa point penting yang disampaikan pada saat itu.

Aa Gym menyampaikan, alhamdulillah, umur kita telah disampaikan oleh Allah SWT dengan bulan yang penuh berkah, bulan yang penuh kemulian, yaitu bulan suci Ramadhan. Oleh karena bulan ini merupakan bulan yang istmewa, kita sebagai hamba Allah juga harus melakukan sesuatunya dengan istimewa. Maksudnya? Ketika kita melakukan suatu kebaikan, lalukanlah dengan cara dan perlakuan yang istimewa. Ada beberapa hal yang saya kutip dari apa yang disampaikan beliau terkait bagaimana kita menyikapi bulan istimewa dan mulia ini dengan perlakuan yang istimewa, yaitu:
  1. Jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan perlombaan dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Ya, Aa Gym menggambarkan bahwa jika kita melakukan sesuatu dengan berkompetisi atau berlomba, maka hasilnya akan jauh lebih baik. Sebagai contoh, ketika kita berlari dengan lomba berlari, cepat mana? Ketika kita makan kerupuk dengan lomba makan kerupuk, lebih cepat mana? Pasti akan lebih cepat ketika kita ikut dalam suatu perlombaan. Oleh karenanya, jika sikap ini dapat diterapkan dalam hal ibadah dan muamalah, maka hasilnya akan jauh lebih baik. Aa Gym mencontohkan, jika kita hendak menyumbangkan baju bekas kepada seseorang/komunitas yang membutuhkan, bisa saja, setelah kita pakai langsung diberikan. Namun, alangkah lebih baiknya jika baju tersebut kita cuci terlebih dahulu, kita seterika, kita kasih parfum, dan diberikan plastik agar terlihat rapi, pasti hasilnya akan jauh lebih baik sehingga siapa saja yang akan menerimanya akan merasa lebih senang. Dan, banyak lagi contoh lainnya.
  2. Berbuat amal kebaikan tidak perlu banyak berpikir. Ya, dalam hal berbuat baik, beramal, bersedekah atau dalam bentuk kebaikan lainnya, kita tidak perlu banyak mikir. Langsung saja action! Ya, percayalah bahwa apa yang kita kerjakan pasti dilihat oleh Allah dan pasti akan mendapatkan ganjarannya meskipun hanya sebesar biji dzarrah pun kebaikan yang kita lakukan. Sebagai contoh, misal kita saat ke kamar mandi atau di manapun berada melihat kecoa yang terlentang (Hewan yang akan mati jika posisi terlentang). Yuk, langsung bantu kecoa itu agar bisa berdiri lagi atau membalik badannya lagi. Saat kita berada di jalan dan ada kucing yang kelihatan lapar, kita bisa membelikan makanan untuk diberikan kepada kucing tersebut. Kedua contoh kondisi tersebut merupakan peluang rezeki/amal yang diberikan Allah kepada kita. Kenapa demikian? Karena pasti tidak setiap hari kan kita melihat kecoa telungkup/terlentang? Atau melihat kucing yang sangat lemas karena sangat lapar atau haus. Makanya, bantu! Hal lainnya, bisa dengan memindahkan atau meminggirkan sesuatu apapun yang ada di jalan yang dapat menghalangi pengguna jalan. Meskipun tidak ada seorang pun yang melihat, tapi yakinlah Allah melihatnya.
  3. Bulan momentum putus harapan kepada manusia. Ya, saat kita melakukan kebaikan apapun, niatkanlah setulus mungkin hanya mengharap ridlo Allah SWT. Kalau kita hanya mengharap penghargaan dari sesama makhluk, tidak akan ada artinya. Ketika kita berbuat baik, tapi orang lain menganggap kita salah atau tidak menghargai kita, tidak apa-apa. Toh, niat kita berbuat baik karena mengharap rahmat dan ridlo Allah. Tapi, kalau kita semata-mata hanya mengharap penghargaan dari manusia, maka jika mereka tidak menghargai kita, bisa jadi kita akan marah, jengkel, atau enggan melakukan pekerjaan itu lagi. So, yuk saatnya memutus pengharapan kita kepada manusia, cukup gantungkan semuanya kepada Allah Yang Maha Menciptakan kerajaan langit dan bumi.
  4. 'm remembering things :D *agak lupa point terakhirnya*

Sunday, 29 June 2014

Tarhib Ramadhan #KulTwit Ustadz Hilman Rosyad


Alhamdulillah, kita diperkenankan oleh Allah SWT untuk berjumpa kembali dengan bulan mulia dan penuh berkah, yaitu bulan Ramadhan. Semoga Ramadhan kali ini tidak berlalu bergitu saja karena kita tidak tahu akankah kita diperkenankan bertemu dengan Ramadhan tahun depan atau tidak. Oleh karenanya, agar Ramadhan kita berkualitas perlu adanya persiapan dan bekal yang cukup. Berikut saya lampirkan informasi tentang Tarhib Ramadhan melalui KulTwit dari Ustadz Hilman Rosyad (dengan penyesuaian bahasa seperlunya). Semoga bermanfaat dan selamat menunaikan ibadah puasa. #MarhabanYaaRamadhan

  1. Ramadhan bulan berkah, bulan ibadah, bulan maghfiroh, bulan pelipatgandaan pahala, bulan tarbiyah. Benarkah?
  2. Ramadhan menjadi tidak bermakna apa-apa bila banyak makan saat malam hari, senda gurau, main mulu, main petasan, tidur siang hari.
  3. Gagal ramadhan disebabkan kita tidak miliki visi-misi yang benar seperti yg disunnahkan.
  4. Visi Ramadhan adalah “persedikit makan/minum dan perbanyak ibadah. Setuju?
  5. Hanya dengan sedikit makan dan banyak ibadah seluruh keutamaan Ramadhan akan tercapai dan kita berhak medapat ampunan.
  6. Misi Ramadhan ada 10 poin. Pengen tahu?
  7. Misi pertama: ta’khirussahur (mengakhirkan sahur). Sahur? Bukan makan malam atau sarapan, sahur adalah terjaga di 1/3 akhir malam.
  8. Sabda Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Bangunlah pada waktu sahur karena waktu sahur itu penuh berkah”.
  9. Pastikan setiap hari pada Ramadhan kita terjaga di waktu sahur untuk meraih berkah tidak sekadar makan/minum.
  10. Misi kedua, menyegerakan berbuka. Rasul bersabda: “Ummatku senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa”.
  11. Sunnah bersegera berbuka sepertinya pasti dilaksanakan semua orang, tetapi tahukan cara buka Rasulullah? Pasti tahu kan?
  12. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam selalu berbuka dengan kurma 3 butir lalu minum air kemudian shalat Maghrib. Setelah Maghrib? Beliau menanti shalat Isya'.
  13. Rasul berbuka tidak seperti kita berbuka; kurma, kolak, bakwan, dan teh manis. Setelah Maghrib, kita santap nasi dengan berbagai lauk pauknya.
  14. Seringkali kita jadikan antara Maghrib dan Shubuh sebagai ajang makan/minum semata. Jelas ini tidak sesuai Sunnah Rasul.
  15. Cara berbuka Rasul mensunnahkan kita untuk “memelihara” suasana lapar siang hari karena puasa pada malam hari.
  16. Islam agama yang tidak merusak apalagi membinasakan human being kita, Islam agama mudah dan memudahkan.
  17. Sunnah berlapar-lapar pada malam hari dibarengi kehalalan makan minum (seperlunya) agar kita tetap sehat dan kuat ibadah.
  18. Ingat visi ‪#Ramadhan‬: persedikit makan dan perbanyak ibadah. Setuju?
  19. Misi ketiga; qiyamullail. QL adalah rangkaian shalat sunnah 2 rakaat demi 2 rakaat antara Isya' dan Shubuh dengan sekali witir.
  20. QL yang benar tidak dilihat dari jumlah rakaat 8 atau 20, tetapi seberapa lama qiyam, ruku, dan sujud serta kekhusyuannya.
  21. Seluruh hadist tentang QL Rasulullah hanya menjelaskan bahwa QL beliau itu berlama-lama saat qiyam, ruku', dan sujud serta betapa khusyu’.
  22. Jumlah rakaat berapapun bukan masalah penting, yang penting adalah sifat QL Rasulullah bisa kita laksanakan; lama dan khusyu. Mau?
  23. Berlebihan dan berkenyang-kenyangan saat berbuka puasa sangat mengganggu kekhusyu’an dan kesanggupan berlama-lama qiyamullail.
  24. Pilihan QL sangat banyak, silakan maksimalkan di rentang 9 jam antara Isya'-Shubuh di setiap malamnya.
  25. QL bisa di awal, tengah atau akhir malam, boleh berjamaah atau munfarid, yang penting sekali witir sebelum tidur atau menjelang Shubuh.
  26. Pastikan setiap malam Ramadhan kita berqiyamullail karena QL adalah kembaran puasa. Puasa di siang dan QL malam harinya. Selamat mencoba!
  27. Misi keempat; tilawatul Qur'an. Ramadhan bulan Qur'an! Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril as selalu menkhatam Qur'an berkali-kali setiap Ramadhan.
  28. Yang penting baca! Belum lancar baca Qur'an segera belajar sekarang juga! Yang sudah lancar, maka perbanyaklah bacaannya min 1juz/hari.
  29. Jangan tergoda dengan; “ah yang penting faham bukan baca Qur'an!” Ketahuilah! Baca adalah tuntutan dan faham adalah tuntutan yang lain.
  30. Jadikanlah hari-hari dan malam-malam Ramadhan sebagai har dan malam yang disenandungkan Qur'an dengan ikhlas plus benar dan baik bacaannya.
  31. Sekali lagi membaca Qur'an ibadah dan memahaminya pun ibadah. Jangan salah satu mengabaikan yang lain, amalkan keduanya.
  32. Misi kelima: dzikir dan do’a. Dzikir adalah simbol dekatnya hamba kepad sang Kholiq. Do’a simbol “connecting” antara keduanya.
  33. Kedekatan harus mewujud sikap hamba selalu harap dan takut kepada Allah dan sifat Allah yang rahman terhadap hambanya, itulah hakekat dzikir.
  34. Keterhubungan adalah ketika hamba yang faqir selalu memohon kepada Allah yang maha kaya melalui do’a tulus nan ikhlas.
  35. Waktu do’a terbaik pada saat Ramadhan adalah saat jelang berbuka, tetapi sebagian kita saat tersebut justeru sibuk dengan hidangan berbuka!
  36. Berdo’alah untuk diri, pasangan, keluarga, masyarakat, dan bangsa Indonesia di setiap jelang buka sepanjang bulan Ramadhan.
  37. Kerja keras, cerdas, dan ikhlas yang diawali perencanaan matang serta diikuti evaluasi akurat menjadi sempurna dengan do’a.
  38. Misi keenam; zakat, infaq, shadaqoh, dan waqaf. Semuanya simbol berbagi dengan sesama. Sejatinya Ramadhan adalah bulan peduli dan berbagi!
  39. Ramadhan tidak boleh menurunkan produktifitas! Ia mendongkraknya, Ramadhan yang bervisi-misi mmbuat siapapun hidup dengan efektifitas tinggi.
  40. Sepanjang Ramadhan acktivitas sekunder dan tersier pasti jarang dan sulit dilakukan karena fokus pada amaliyah Ramadhan. Kita jadi hemat!
  41. Hemat terhadap hal-hal sekunder dan tersier, sengaja makan sedikit, fokus ibadah menjadikan rekening masih penuh, dompetpun masih tebal.
  42. Maka shadaqoh dan wujud kepedulian serta kedermawanan lain menjadi mudah dibuktikan orang bervisi-misi Ramadhan yang benar sesuai sunnah Rasul.
  43. Misi ketujuh; perbanyak amal sholih dan ibadah sunnah lainnya. Yang dimaksud dengan ‘lainnya’ adalah selain ibadah pada misi 1 s.d 6.
  44. Tholabul ilmi dengan membaca buku islami, simak acara TV, radio, internet, dan social media yang berkonten islami, hadir di majelis ilmu.
  45. Memastikan kehadiran diri pada shalat berjamaah, berbakti kepada orang tua, jadi panitia Ramadhan dan amal shalih lainnya harus optimal.
  46. Misi kedelapan; meninggalkan hal-hal mubah yang tidak bermanfaat. Ramadhan saatnya kita serius, giat, sungguh-sungguhm dan unjuk prestasi! Bukan santai!
  47. Permainan monopoli, ular tangga, gaple, congklak, PS, petasan, dan ngabuburit jauh lebih dominan dibanding amaliah Ramadhan.
  48. Konten acara TV yang tidak berakhlaq penuh dengan lawak yang mengeksploitasi fisik bukan dialog cerdas menambah daftar ketidakbermanfaatan.
  49. Kerja produktif, unjuk prestasi, ulet, gigih, smart, sungguh-sungguh; memberi faidah kepad yang lain adalah keharusan sepanjang Ramadhan.
  50. Misi kesembilan; iktikaf. Definisinya adalah hadir di masjid dengan niat taqorrub dan ibadah kepada Allah SWT.
  51. Iktikaf harus di masjid jami’ yang buat Jumatan. Semakin besar maka semakin afdol. Makanya masjidil Haram Mekah paling afdol untuk beriktikaf.
  52. Iktikaf sangat terbatas pada ruang dan tidak terbatas pada waktu. Karena sunnah iktikaf sepanjang tahun, terutama Ramadhan.
  53. Sunnah iktikaf pada Ramadhan adalah di setiap harinya. Tetapi yang paling afdol adalah di 10 hari terakhir siang dan malamnya.
  54. Perempuan yang iktikaf harus memperhatikan hal-hal berikut seperti suci, di masjid yang ada fasilitas iktikaf untuk muslimah dan tidak meninggalkan kewajiban utama.
  55. Di tengah kesibukan beraktifitas sempatkan sesering mungkin hadir di masjid meskipun sering keluar masuk yang penting jaga niat.
  56. Dengan iktikaf, jadikanlah masjid sebagai tempat favorit untuk dikunjungi dan berbuatlah yang sesuai dengan kesucian masjid bila berada di dalamnya.
  57. Misi ke-10; mencari Lailatul Qodar (LQ). Bila kita pada LQ terjaga dan melaksanakan ibadah, maka berpahala setara dengan ibadah siang malam selama 1000 bulan.
  58. Kapankah LQ itu? LQ diperkirakan di malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan. Propabilitasnya malam 21, 23, 25, 27, dan 29.
  59. Terdapat pula riwayat bahwa LQ itu malam-malam ganjil pada 5 hari terakhir Ramadhan, maka propabilitasnya malam 25, 27, dan 29.
  60. Bahkan beberapa sahabat, seperti Ubay bin Ka’ab, meyakini; “sepertinya” LQ itu malam 27 setiap Ramadhan.
  61. Bagi yang amat sibuk carilah LQ pada 3 malam ganjil terakhir (25, 27, dan 29) dan bagi muslim “seperlunya” pastikan malam 27 mantengin nyari LQ.
  62. Urgensi LQ lebih pada dimensi waktu yaitu ‘lailat’ atau ’malam’. Berbeda dengan iktikaf yang lebih pada dimensi ruang (masjid).
  63. Berarti siapapun dan di manapun ia berada bisa mencari LQ pada waktu yang diperkirakan yaitu malam-malam ganjil di 10 malam terakhir.
  64. Bagaimana mencari LQ itu? Gampang banget! Cuma terjaga sepanjang malam yang diperkirakan s.d fajar sambil terus beribadah apa saja yang bisa dan mungkin.
  65. Bagi yang mau mengoreksi, menambahkan atau istifsar (bertanya lebih lanjut) sangat dipersilakan dan mohon maaf bila terdapat hal yang tidak berkenan.

Tuesday, 20 May 2014

Aisyah dan Maisyah


Materi ini diambil dari buku “Aisyah & Maisyah: Persiapan Keuangan Menuju Pelaminan” terbitan GIP. (Dishare melalui akun Twitter Mas Ahmad Gozali, Pakar perencanaan keuangan Syar’i)
*dengan bahasa (diksi) yang sedikit disesuaikan oleh @fachriyaqub

***

Aisyah adalah istri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang paling sering dibahas dalam sejarah. Aisyah adalah icon istri idaman para lelaki bujangan. Sementara, maisyah artinya sumber nafkah, api pembakar tungku di dapur, bensin penggerak mesin rumah tangga, perannya kecil tetapi penting.

Aisyah dan maisyah merupakan dua hal yang menjadi faktor tarik-ulur para pemuda di penghujung masa lajangnya. “Aisyah sih sudah ada, tapi maisyahnya belum siap.” Begitu kilah para pemuda ketika ditanya oleh Ustadznya untuk segera menikah. Maka setelah lulus kuliah, para pemudi sudah pasang sign “Yes, I’m ready!” Tapi sayang, para pemuda masih duduk bimbang di pojok masjid.

Pemuda jomblo: “Cari Aisyah dulu apa maisyah dulu ya... pusing ah.”

Coba perhatikan perbincangan di kalangan jomblo saat menghadiri akad nikah atau resepsi pernikahan, di antara para pemuda dan pemudi berbeda topik bahasannya. Para pemudi colek pengantin, tanya bagaimana perasaannya, kenal di mana, dan sebagainya. Sementara, pemuda colek pengantin dan tanya “Abis biaya berapa lu?”

Di sinilah para pemuda harus diluruskan pemahamannya. Mereka menunda menikah hanya karena alasan belum ada biaya untuk resepsi yang mahal. Wahai para pemuda, ketahuilah bahwa semahal-mahalnya biaya resepsi, masih bisa nego, juga masih bisa patungan. Tapi semurah-murahnya biaya hidup setelah menikah, itu tanggungjawabmu sendiri sebagai suami!

Saya ulangi: “Semahal apapun biaya resepsi, bisa nego dan patungan. Tapi semurah apapun biaya hidup, harus dari kantong sendiri”. Maka benahi prioritasmu, mengusahakan maisyah bukan untuk biaya resepsi, tetapi untuk biaya hidup mandiri sesudah menikah. Jadi kalau nabung abis-abisan buat pesta besar lalu kemudian setelah itu numpang sama mertua, itu namanya TER.. LA.. LU..!! Tunda pernikahan dengan alasan belum punya dana buat resepsi, tapi malah ngabisin duit buat pacaran sana sini, itu namanya TER.. LA.. LU..!!

Tapi bagaimana kalau emang buat biaya hidup saja sepertinya belum cukup? Silakan baca Al-Qur'an surat ke 24 ayat 32 bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman "Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.“ (24:32).

Hanya dengan menikah saja, Allah berikan rezeki.. apalagi kalau setelah menikah menjadi tambah tanggung jawab, tambah semangat berusaha.

Tapi bagaimana kalau calon mertua yang minta pesta pernikahan seperti ini itu? | Statusnya masih camer kan? Kalau gak sanggup, berarti gak jodoh! Simple! Lulus kuliah alasannya belum kerja, sudah kerja alasannya belum karyawan tetap. Sudah diangkat, ada lagi alasan ini itu lainnya.

Nunggu mapan baru nikah? Apa nikah agar menjadi mapan?
Belum punya rumah, belum punya kendaraan, belum punya gaji tinggi. Itu cuma alasan! Yang benar adalah belum punya nyali!

Kalau Anda menunggu mapan agar bisa menarik hati wanita agar mau dinikahi, kira-kira apa ya alasannya dia mau? Istilah Sakinah-Mawaddah-Warahmah: Damai-Cinta-Kasih ini adalah tangga urutan tiada kasih tanpa cinta dan tiada cinta tanpa damai. Sakinah-Mawaddah-Warahmah itu hadir setelah menikah. Sakinah itu artinya damai, tenang, mapan. Artinya mapan baru hadir setelah menikah.

Jadi, mantapkan niat, ubah prioritas keuangan untuk hidup setelah menikah bukan untuk resepsi mewah.

—

“Maisyah udah ada, tapi Aisyah belum ketemu.” Itu juga alasan. Yang benar adalah belum ketemu nyali untuk mencari Aisyah". Untuk para pemuda, jangan tunggu mapan. Yang penting berpenghasilan dan sanggup bertanggungjawab menafkahi istri. Sementara untuk para pemudi, jangan tunggu pemuda tampan berkuda putih menjemputmu. Siapkan diri juga secara finansial. Siap start dari NOL!

Oke, niat sudah mantap. Aisyah sudah siap, maisyah sedang dijemput.

Pada bahasan selanjutnya akan dibahas mengenai Ta'aruf  & Seleksi (tetap dari kacamata keuangan ya!)

Boleh gak sih pertimbangkan harta dari calon suami/istri? Boleh saja, tapi jangan jadikan sebagai pertimbangan utama ya. Ingat rumus:
Agama = 1
Fisik = 0
Keturunan = 0
Harta = 0, dan
lain-lain nilainya 0 juga.
Coba urutkan kriteria tersebut untuk dapat nilai yang tinggi.

Kalo kriterianya: Ganteng+Baik Hati+Darah Biru+Kaya Raya+Agama OK, maka nilainya 00001. Alias 1 saja. Coba kriterianya diubah, Agamanya OK+Cantik/Ganteng+Pinter+Keturunan Baik-Baik+Kaya Raya, nilainya 10000. Maka, makin banyak 0 makin bagus!
Oke dilanjut, seleksi sudah clear ya.. pakai rumus 1+0+0+0...

Sekarang kita bahas ta'aruf alias “perkenalan”.
Ingat pepatah bilang, “Tak kenal, maka ta’aruf” sehingga ini menjadi tahap yang penting juga lho.

Apa yang perlu dikenal dari calon pasangan? Intinya sih penghasilan, gaya hidup, hutang,... Tapi bagaimana cara tanya yang elegan?

Banyak pemudi yang ragu kalau harus tanya “Emang gajimu berapa?”. Tak sedikit pula pemuda yang tidak mau terbuka kecuali ditanya.

Pertanyaan cewe matre kayak gini: “Mo ngasi makan apa lo berani ngelamar?” | Tapi kalau cewe solehah begini: “Jelaskan, bagaimana caramu membawa makanan halal dalam rumah kita?”

Luruskan niat, tanya penghasilan bukan karena matre. Tapi, minta kepastian bahwa hanya lelaki bertanggungjawab yang boleh menikahimu. Luruskan niat, cerita tentang maisyah bukan karena sombong, melainkan untuk meyakinkan calonmu bahwa hanya harta halal yang akan dibawa pulang ke rumah.

“Malu mau jujur kasih tahu, gajiku kan kecil, nanti ditolak...” Ada yang beralasan begini?
Jika Anda ditolak karena dianggap penghasilannya kecil, berbahagialah karena Anda telah diselamatkan dari bahaya yang sangat besar. Bayangkan seperti apa jadinya rumah tangga yang kelak dibangun jika Anda mengaku berpenghasilan besar agar diterima mertua. Sungguh bahaya yang sangat besar menanti di depan jika kondisinya demikian.

Jangan bandingkan fasilitas calon suami (yang baru beberapa bulan/tahun kerja) dengan fasilitas orang tua di rumah (yang sudah puluhan tahun). Maka wajar kalau harus ngontrak di rumah dalam gang becek, gak ada ojek. Start bersama dari 0 itu lebih nikmat, jadi kenangan sampe tua.

JANGAN NILAI CALONMU DARI PENGHASILANNYA SEKARANG. TAPI NILAILAH IA DARI POTENSINYA DI MASA YANG AKAN DATANG.

Menunda pernikahan karena masalah keuangan akan membuat Anda terjerumus pada masalah keuangan yang lebih besar di masa depan. Masuk usia pensiun, anak masih belum lepas nafkah, melahirkan anak di usia lebih dari 35 tahun berisiko tinggi, dan asuransi menjadi lebih mahal serta kondisi atau permasalahan lainnya yang mungkin muncul.

So, ayo para pemuda dan pemudi mulai sekarang atur ulang prioritasmu dan niatkan semua yang akan dijalani ini semata-mata untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Friday, 16 May 2014

Satu Jam Ekstra!

Para pekerja di Jakarta dan sekitarnya rela menambah waktu kerja mereka beberapa jam di pagi hari dan beberapa jam di malam hari, sekadar untuk pergi dan pulang kerja. Jutaan orang melakukan ini dan tanpa disadari telah berlangsung cukup lama. Mereka terpaksa melakukannya karena harus tiba di tempat kerja tepat waktu - di tengah kemacetan jalan yang terus memburuk. Seandainya saja mereka dengan sukarela mau meluangkan waktu satu jam ekstra di waktu yang lain bisa jadi hasilnya akan jauh berbeda.

Satu jam ekstra ini adalah waktu sahur untuk menunaikan shalat malam, waktu terbaik untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada-Nya. Bila kita rela membuang waktu kita beberapa jam setiap hari di jalan raya, mengapa kita tidak melakukannya secara sukarela menggunakan satu jam saja di waktu sahur untuk bangun, sholat, dan berdoa? Satu jam untuk shalat malam adalah waktu yang cukup untuk bisa menikmati rakaat demi rakaat dan sujud menghadap Sang Maha Pencipta di shalat malam kita. Waktu yang cukup untuk mengungkapkan segala kegalauan hati kita kepada-Nya, memohon pertolongan, dan solusi atas segala permasalahan hidup kita.

Pada umumnya, kita rela bangun lebih pagi dan pulang lebih malam untuk bisa memenuhi disiplin kerja kita di kantor dengan imbalan gaji bulanan dan bonus bagi kita serta karir untuk masa depan kita. Tetapi, kantor kita bisa saja tidak mampu memenuhi janji tersebut – tergantung kondisi perusahaan atau instansi tempat kita bekerja.

Di sisi lain, ada yang menjanjikan satu jam ekstra kita dengan janji yang pasti dipenuhi dan bukan hanya janji untuk kepentingan dunia saja melainkan juga hingga kepentingan akhirat kita – jaminan karir dunia akhirat! Karena yang berjanji adalah Dia Yang Maha Menepati Janji. Janji ini dikabarkan antara lain melalui hadits berikut: "Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam." (HR. Muslim)

Dalam sejarah, banyak bukti nyata yang menunjukkan telah dipenuhi janji-Nya kepada orang-orang yang secara konsisten melakukan shalat malam. Salahuddin Al-Ayyubi berani berangkat menaklukkan (kembali) Jerusalem dan berhasil – setelah dia mendapati pasukannya melakukan shalat malam di tenda-tendanya. Muhammad Al-Fatih tidak pernah meninggalkan shalat malamnya sejak dia baligh, sekitar separuh dari pasukannya-pun melakukan hal yang sama. Hasilnya adalah penaklukkan Konstantinopel dengan strategi perang yang tidak terbayangkan sebelumnya – bahkan sulit terulang untuk zaman modern ini sekalipun.

Kini, kita memang tidak sedang berperang secara fisik melawan siapapun, namun justru kondisi inilah yang membuat kita ‘kalah’ dalam berbagai ‘medan peperangan’ yang bersifat sistematis dan terselubung. Kita sedang ‘kalah’ dalam peperangan pemikiran dan budaya sehingga sebagian besar dari kita harus bekerja dengan irama yang membuat kita sulit untuk dapat menunaikan shalat lima waktu dengan khusyu’ dan tepat waktu. Bagaimana bisa shalat tepat waktu dengan khusyu’ bila waktu adzan Maghrib dan Isya’ masih di tengah kemacetan lalu lintas?

Kita ‘kalah’ dengan sistem kapitalisme ribawi yang mendominasi perekonomian kita sehingga untuk urusan jaminan sosial dan jaminan kesehatan para pekerja – mereka dipaksa secara hukum untuk menerima yang riba. Kita ‘kalah’ dalam perang ekonomi di mana sekitar separuh penduduk negeri ini berdaya beli kurang dari US$ 2 per hari. Padahal, kondisi ini baru sekitar 1/5 dari standar nishab zakat 40 ekor domba!

Ironisnya, kita juga ‘kalah’ dalam sistem demokrasi – yang seharusnya kita bisa dan mampu untuk memang, namun umat muslim yang banyak di negeri ini tidak dapat berbuat banyak bahkan demokrasi ini telah menjadi tragedi yang memecah belah umat menjadi banyak golongan. Umat bukan hanya dipecah antar partai, bahkan dalam satu partai-pun para pendukung caleg A bisa berpecah dengan pendukung caleg B. Jamaah shalat di masjid-masjid-pun menjadi kaku hubungan antar sesamanya di musim pemilu karena sebagian mendukung partai A dan sebagian yang lain Golput atau mendukung partai lain.

Dalam skala pribadi-pun kita lebih banyak ‘kalah’ dengan sistem yang ada ketika kita berusaha membangun usaha yang bebas riba, riswah, dan sejenisnya. Kita sering ‘kalah’ ketika berusaha membangun lingkungan kerja yang bersih dari apa-apa yang tidak diridloi-Nya. Maka banyak sekali ‘peperangan-peperangan’ yang masih harus kita menangkan, sedangkan kita amatlah lemah kecuali bila kita bisa menghadirkan pertolongan-Nya. Shalat malam adalah salah satu jalan yang dapat kita tempuh untuk menghadirkan pertolongan-Nya dalam setiap kesulitan dan jalan buntu yang kita temui.

Perencanaan kita terbatas dan usaha kita pun sulit untuk mencapai maksimal, maka hanya dengan kehadiran dan pertolonganNya-lah yang bisa menyempurnakan segala usaha kita. Bila untuk ini diperlukan 1 jam ekstra di waktu sahur, apakah terlalu berat? Apakah terlalu berat untuk membiasakan bangun dan shalat malam sekitar pukul tiga dini hari untuk satu jam saja, sedangkan kita punya begitu banyak waktu tidur di jam-jam yang lain? Kita bisa tidur dalam perjalanan pergi dan pulang kantor selama berjam-jam. Kita bisa juga membiasakan tidur satu jam lebih awal dari biasanya agar nanti bisa bangun pukul tiga dan dengan berbagai cara lain yang bisa kita tempuh untuk mendapatkan waktu satu jam ekstra yang amat sangat berharga tersebut.

Tidak hanya berharga untuk kehidupan kita di dunia, tetapi juga yang lebih utama tentu untuk kehidupan kita di waktu yang tidak terbatas – yaitu di akhirat kelak. Shalat malam kitalah yang insyaAllah bisa membuat Allah tersenyum. “Ketahuilah, sesungguhnya Allah tersenyum terhadap dua orang laki-laki: Seseorang yang bangun pada malam yang dingin dari ranjang dan selimutnya, lalu ia berwudhu’ dan melakukan shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada para Malaikat-Nya, 'Apa yang mendorong hamba-Ku melakukan ini?' Mereka menjawab, 'Wahai Rabb kami, ia melakukan ini karena mengharap apa yang ada di sisi-Mu dan takut dari apa yang ada di sisi-Mu pula.' Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku telah memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan memberikan rasa aman dari apa yang ia takutkan.” (HR. Ahmad).

Dari Nu’aim bin Hammar: “Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Syuhadaa’ apa yang paling utama?”. Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang apabila masuk di barisan perang/jihad, maka mereka akan memfokuskan wajah-wajah mereka hingga terbunuh. Mereka itulah orang-orang yang pergi menempati kamar-kamar di surga yang tinggi. Rabb mereka tersenyum kepada mereka. Dan apabila Rabb mu tersenyum kepada seorang hamba di dunia, maka ia kelak tidak akan dihisab.” (HR. Ahmad).

Mari kita luangkan satu jam di malam hari untuk membuat Allah tersenyum selagi kita hidup di dunia ini agar kita juga bisa terus tersenyum di dunia ini sampai datang masa kehidupan akhirat nanti. Kita sudah rela membuang waktu kita berjam-jam setiap hari untuk berbagai aktivitas kita yang lain, mengapa tidak meluangkan yang satu jam di waktu sahur ini untuk beribadah dan memohon pertolongan-Nya? InsyaAllah, kita bisa!


Sumber: Ditulis oleh Muhaimin Iqbal (dengan editing seperlunya)

Apa Sih Tolok Ukur Keberhasilan Rumah Tangga?

Sebagian besar masyarakat mengatakan, terdapat dua hal yang jika terjadi maka rumah tangga tersebut terbilang sukses, yakni mempunyai anak dan banyak harta.

Bukan. Bukan itu.

Pertama, rumah tangga 'Aisyah radhiallaahu 'anha tidak dikaruniai anak, lalu apakah kita akan berkata suami-istri tersebut tidak harmonis? Tidak bahagia?
Kedua, rumah tangga Fatimah radhiallaahu 'anha sangat minim harta. Sang istri pernah menahan laparnya selama beberapa hari hingga kuninglah wajah beliau. Lalu, apakah kita berani mengatakan bahwa rumah tangga mereka hancur berantakan diujung tombak? Tidak. Bahkan suami beliau adalah salah satu penghuni surga Allah. Maa syaa'Allah.

Benar, sebagai seorang istri janganlah dengan mudah untuk menuntut kalimat perpisahan hanya karena kedua hal di atas. Sebab, ummahatul mukminin tidak pernah memberatkan suaminya dengan perkataan tercela. Juga, sebagai seorang suami janganlah mudah mengatakan "Aku tak punya harta, aku tak pantas untukmu, duhai istriku". Innalillaahi wa inna ilayhi raaji'un. Tahu kah para suami, kalimat tersebut justeru enggan didengar oleh istri kalian. Karena dalam kondisi tersebut, para sahabat tidak tercermin dalam diri mereka sifat keputus-asaan.

Seyogyanya, tolok ukur keberhasilan rumah tangga seorang muslim ialah:
- Ketika setelah menikah, maka bertambahlah taqwa mereka kepada Allah.
- Ketika setelah menikah, maka bertambahlah amalan-amalan sunnah mereka.
- Ketika setelah menikah, bertambahlah hafalan-hafalan mereka.
- Ketika setelah menikah, bertambahlah kesabaran mereka dalam setiap takdir Allah.
- Ketika setelah menikah, bertambahlah ghiroh mendatangi majelis-majelis ilmu Allah.
- Pun, ketika setelah menikah, bertambah takutlah mereka sebab mengingat hari di mana mereka akan terpisah dan menghadap sidang Rabb-nya yang paling adil. Bertambah berharaplah mereka kepada Rabb-nya agar dapat dipertemukan dan dinikahkan kembali dalam jannah Allah tanpa hisab. Amin yaa Rabbal 'alamin.


Sumber: Grup WA (dengan bahasa yang disesuaikan)
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.

Sunday, 6 April 2014

Tuhan, Takdir, dan Syaitan

Ada seorang pemuda yang mencari seorang guru agama, pemuka agama atau siapapun yang bisa menjawab tiga pertanyaannya. Akhirnya, sang pemuda itu menemukan seorang bijaksana. Dalam perakapan di bawah ini, Pemuda akan dinotasikan dengan P sementara Bijaksana dengan huruf B.

P : Anda siapa? Bisakah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
B : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya, saya akan menjawab pertanyaan Anda.
P : Anda yakin? Sedang profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
B : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.
P : Saya punya tiga buah pertanyaan.
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya!
2. Apakah yang dinamakan takdir?
3. Kalau syaitan diciptakan dari api, lalu kenapa dimasukkan ke neraka yang terbuat dari api juga? Tentu tidak menyakitkan buat syaitan sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berpikir sejauh itu?

Tiba-tiba, sang orang bijaksana tersebut menampar pipi si pemuda dengan keras.
P : (Sambil menahan sakit) Kenapa Anda marah kepada saya?
B : Saya tidak marah. Tamparan itu adalah jawaban saya atas tiga buah pertanyaan yang Anda ajukan.
P : Saya sungguh tidak mengerti.
B : Bagaimana rasanya tamparan saya?
P : Tentu saja saya merasa sakit.
B : Jadi, Anda percaya bahwa sakit itu ada?
P : Ya.
B : Tunjukkan pada saya wujud sakit itu!
P : Saya tidak bisa.
B : Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujud-Nya.
B : Apakah tadi malam Anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
P : Tidak.
B : Apakah pernah terpikirkan oleh Anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?
P : Tidak.
B : Itulah yang dinamakan takdir.
B : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar Anda?
P : Kulit.
B : Terbuat dari apa pipi Anda?
P : Kulit.
B : Bagaimana rasanya tamparan saya?
P : Sakit.
B : Walaupun syitan dan neraka sama-sama terbuat dari api, neraka tetap menjadi tempat yang menyakitkan untuk syitan.

Semoga kita dapat memetik hikmah dari percakapan singkat di atas.



Sumber: Facebook (dengan bahasa yang disesuaikan)
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.

Nasehat Simbah tentang Sebuah Perjalanan

[Based on True Story]
Nasehat Simbah tentang Sebuah Perjalanan
Jember, Oktober 2013


Siang itu, Mas mengajakku berkunjung ke rumah Adik Mbah Uti. "Kita ke rumah Mbah Sis, ya Sayang.." Spontan, feeling excited. Mbah Sis adalah sosok simbah yang murah senyum, santun, dan sederhana. Ini akan menjadi pertemuan yang ketiga kalinya antara saya dengan beliau. Dua pertemuan sebelumnya saat walimah di Wonosobo dan Jember. Di moment itu, beliau memberikan banyak ilmu dan nasihat. Hingga saat ini, kata-kata beliau masih saya pegang dalam menjalani peran sebagai istri yang [selalu berusaha] shalihah. Kali ini pun saya yakin, Mbah akan kembali membekali kami dengan segudang ilmu lainnya.

Dan ternyata benar! Di rumah mungil itu, kami tidak hanya disuguhi dengan lezatnya empal, tetapi juga disuguhi cerita yang begitu sarat makna.

"Nak Zain, Vika.. Menikah itu ibarat berlayar menuju ke sebuah pulau. Sebelum menikah, kalian hanya bermain-main di pantai. Kalian tidak berhak menaiki kapal meskipun ia ada di hadapan kalian. Setelah janji suci terucap, langit bergetar, dan barulah Allah mengizinkan kalian menaiki kapal itu."

Beliau menghentikan kata-katanya, lalu menatapku.
"Nak, di kapal ini, suami adalah Nahkodamu. Dan kau, istri, adalah penumpang yang harus setia menemani sang Nahkoda."

Beliau berganti menatap kami berdua dan melanjutkan kata-katanya.
"Di awal perjalanan kalian hanya akan menerjang ombak-ombak kecil. Tidak sulit untuk lolos dari ombak-ombak itu. Akan tetapi, semakin kalian jauh dari pantai, maka akan semakin besar pula ombak yang harus kalian terjang. Bahkan badai pun siap menghajar kapal kalian!" Di sinilah kelihaian nahkoda diuji. Seberapa handal ia menyelamatkan keluarganya dari terjangan ombak dan badai yang tak jarang memporak-porandakan kapal. Di tengah hantaman itu, nahkoda harus mendapatkan dukungan penuh dari penumpangnya. Jangan jadi penumpang yang bawel, banyak protes! Tenang, sabar, dan qanaah.."

"Nak Zain, Vika. Untuk menghadapi masa-masa sulit itu, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dengan Shalat dan Al-Qur'an. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan, 'Hiasilah rumah-rumah kalian dengan Shalat dan bacaan Al-Qur'an.' Jangan tinggalkan shalat! Jangan tinggalkan Al-Qur'an! InsyaAllah sebesar apapun ujiannya, rumah tangga kalian akan selamat."

Cerita sederhana ini menghanyutkan kami. Seolah saat ini, kami sudah berada di atas kapal, mulai berlayar, dan semakin menjauh dari garis pantai. Entah sebesar apa ombak di depan sana. Entah seberapa kencang badai yang akan menerjang dan seberapa lama kami akan terus berada di atas kapal ini. Semua itu masih menjadi rahasia Illahi yang hanya akan terbuka saat 'masa' itu tiba. Kami berdiri menatap lautan luas, ketenangan ini hanya sementara, ujian pasti akan datang, dan syaitan siap memporak-porandakan kita. Tangan kami bergenggam erat, menyatukan tujuan dan harap. Jika ketenangan ini hanya sementara, maka ombak dan badai pun bukan sesuatu yang abadi!

Sambil meraih pundakku ia bertanya, "Kau siap, Sayang?"
Ku raih tangannya dan ku jawab,"InsyaAllah, Mas."

---
Terimakasih, Mbah. InsyaAllah akan selalu kami ingat pesan-pesan ini dan emoga juga bermanfaat bagi semuanya!



Sumber: Notes Facebook Vika Budi R (dengan bahasa yang disesuaikan)

Saturday, 5 April 2014

Pemuda, Lamaranmu Aku Tolak!

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya. Melalui ta’aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk melanjutkannya menuju khitbah. Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain; ayah sang perempuan. Dan ini merupakan tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang sekarang amatlah berbeda. Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka menggenapkan agamanya.

Maka, di suatu pagi, di ruang tamu sebuah rumah, seorang lelaki muda menghadap seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’ sang perempuan muda dari sisinya.

“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang setengah baya.
“Iya, Pak,” jawab sang muda.
“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam?” tanya sang setengah baya sambil menunjuk si perempuan.
“Ya Pak, sangat mengenalnya,” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.
“Lamaranmu ku tolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak bisa. Aku tidak bisa mengizinkan pernikahan yang diawali dengan model seperti itu!” balas sang setengah baya.
Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu.”
“Lamaranmu ku tolak. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan. Aku tak mau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya. Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya, keras.

Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang lelaki muda. Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”

“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.
“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di Kampus,” jawab sang muda, percaya diri.
“Lamaranmu ku tolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo rumahku ini kan?”
“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.”
“Lamaranmu ku tolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur keluargamu?”

Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”

“Kamu lulusan mana?”
“Saya lulusan Teknik Elektro UGM, Pak. UGM itu salah satu kampus terbaik di Indonesia lho Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”
“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya saja tujuh tahun, IP-nya juga cuma dua koma Pak.”
“Lha, lamaranmu ya ku tolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik anak-anakmu kelak?”

Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”

“Jadi kamu sudah bekerja?”
“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera jualan produk saya, Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak bakal sempat memerhatikan keluargamu.”
“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku.”
“Lamaranmu tetap ku tolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja nggak becus begitu?”

Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”

“Rencananya maharmu apa?”
“Seperangkat alat shalat, Pak.”
“Lamaran mu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf.”
“Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang lima puluh juta, Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kau pikir aku itu matre dan menukar anakku dengan uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”

Bisikan, “Dia jago IT lho Pak”

“Kamu bisa apa itu, internet?”
“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net.”
“Lamaranmu ku tolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”
“Tapi saya ngenet cuma ngecek email saja kok Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter, Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”

Bisikan, “Tapi Ayah..”

“Kamu ke sini tadi naik apa?”
“Mobil Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya Riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.
“Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”
“Lamaranmu ku tolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini namanya payah. Memangnya anakku supir?”

Bisikan, “Ayahh..”

“Kamu merasa ganteng, ya?”
“Nggak Pak. Biasa saja kok”
“Lamaranmu ku tolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik ini.”
“Tapi Pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak.”
“Lamaranmu ku tolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”

Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”

Sang setengah baya menatap wajah sang anak dan berganti menatap sang muda yang sudah menyerah pasrah.
“Nak, apa adakah yang engkau hafal dari Al Qur’an dan Hadits?”
Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga. Pun pada pokok soal ini, ia menyerah, jawabnya, “Pak, dari tiga puluh juz, saya cuma hafal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja. Hadits-pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”

Sang setengah baya tersenyum, “Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku masih tertatih.”

Mata sang muda ikut berkaca-kaca.

---

Semoga kita dapat mengambil hikmah atas percakapan singkat antara seorang pemuda dan sang ayah di atas dalam menentukan pasangan hidup sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Hurairah – rhadiyallahu anhu – dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tidak ada hal yang paling bermanfaat bagi seorang mukmin setelah taqwa kepada Allah selain wanita shalihah, jika diperintah, ia menaatinya, jika dipandang, ia membuatnya bahagia/senang, jika bersumpah, ia memenuhi sumpahnya, jika ditinggal suaminya, ia menjaga diri dan harta suaminya.



Sumber: Facebook, Manajemen Mentoring Milist (dengan bahasa yang disesuaikan serta penambahan point kesimpulan)
*Silakan buat temen-temen jika ada yang tahu sumber utamanya dari siapa, bisa diinfokan ke @fachriyaqub. Nanti akan diperbaharui sumber atau referensinya.

Memahami Keluarga Sakinah

Catatan Kajian Keluarga Bulanan Masjid Universitas Indonesia
Kamis, 3 April 2014

"Memahami Keluarga Sakinah"
by: Bu Ery Soekresno

Pahami perbedaan psikologis antara laki-laki dan perempuan, yaitu:
LAKI-LAKI
1. Memiliki keinginan untuk belajar dan mengubah diri menjadi lebih baik dibandingkan perempuan
2. Lebih stabil pola emosinya
3. Memiliki standar lebih tinggi
4. Senang humor dan bercanda
5. Membutuhkan tantangan lebih besar
6. Lebih mudah bosan
7. Lebih mudah bahagia

PEREMPUAN
1. Cenderung egois
2. Mudah berkata jujur
3. Cenderung menyimpan perasaannya

Setiap keluarga yang dibangun mendambakan keluarga yang sakinah. Keluarga sakinah yakni setiap anggota keluarga merasa aman, penuh kasih sayang, dan terpenting dirahmati oleh Allah.

Hal ini penting karena:
1. Menggenapkan separuh agama
2. Menjaga keimanan
3. Jalan masuk surga
4. Dasar berjamaah

Ciri-ciri keluarga sakinah terdapat 4 hal yang menjadi faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga:
1. Suami atau istri yg setia
2. Anak-anak yang berbakti
3. Lingkungan sosial yang sehat
4. Dekat rezekinya (mudah berbagi)

Ciri lainnya:
- Cenderung pada agama
- Yang muda hormat pada yang lebih tua, sementara yang tua sayang pada yang lebih muda
- Sederhana dalam belanja
- Lemah lembut dalam bergaul
- QS Al-Baqarah: 187 (suami/istri adalah pakaian bagi pasangannya)
- Pergaulan suami-istri dengan cara yang ma'ruf
- Pasutri melaksanakan peran masing-masing karena Allah
- Semua anggota keluarga beriman dan bertaqwa kepada Allah, menyelesaikan permasalahan kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah
- Rezeki bersih dari yang haram

Tantangan hari ini:
1. Pola hidup modern
2. Khawatir ditertawakan oleh golongan fujaro dan malu disebut sebagai golongan abror

Kiat menuju keluarga sakinah:
1. Mulai dari mencari pasangan yang shalih atau shalihah, taat kepada perintah Allah dan sunnah Rasulullah.
2. Pilih pasangan yang memiliki keutamaan iman dan taqwa
3. Niat menikah untuk ibadah kepada Allah
4. Pasutri menjalankan kewajiban dengan dorongan iman, cinta, dan ibadah kepada Allah
5. Memahami kekurangan dan kelebihan pasangan, menghargai serta saling melengkapi
6. Mohon pada Allah agar menjadi keluarga samaraba
7. Jalan-jalan ke tempat bersejarah Islam untuk tingkatkan kecintaan pada Islam
8. Ketika menghadapi masalah, selalu memohon perlindungan kepada Allah dan selesaikan dengan jalan musyawarah (QS Al-Imron: 159)

Perempuan, sebelum menikah perlu siapkan diri sebagai istri dan ibu karena perempuan adalah kunci membangun peradaban.

Indonesia sampai saat ini adalah fatherless country, kurang optimalnya peran bapak, "ada tapi tiada". Jadi, bagi laki-laki, persiapkan diri agar menjadi ayah yang baik.



Sumber: WhatsApp Group

Thursday, 3 April 2014

Istikharah Menunggu Ketetapan Allah dengan Ikhtiar dan Doa

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan [yang tepat] kepada Engkau dengan ilmu [yang ada pada]-Mu, dan aku memohon kekuasaan-Mu [untuk menyelesaikan urusanku] dengan kodrat-Mu.

Dan aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak berkuasa, dan Engkau Maha Tahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.

Ya Allah, sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih baik untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih baik pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagiku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini.

Dan sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih buruk untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih buruk pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka jauhkanlah urusan ini dariku, dan jauhkanlah aku dari urusan ini, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya.

Maafkan Kami, Wahai Bunda dan Ayahandaku

Sahabat,

Masih ingatkah engkau di kala masih berada dalam kandungan Ibumu?
Pasti engkau akan menjawab, aku tidak ingat apa-apa tentang hal itu.

Masih ingatkah engkau ketika terlahir pertama kali ke dunia ini?
Beberapa menjawab, aku tidak mengingatnya. Tapi mungkin di kala itu, aku hanya bisa menangis, menangis, dan menangis.

Masih ingatkah engkau kala memasuki usia balita? Apa yang telah engkau lakukan dan alami kala itu?
Sebagian dari mu menjawab, aku tidak mengingat secara pasti apa yang telah terjadi padaku di kala aku masih balita.

Masih ingatkah engkau di kala memasuki taman kanak-kanak?
Iya, aku ingat, tapi hanya sebagian kecil yang ku ingat.

Masih ingatkah engkau ketika mulai menapaki pendidikan sekolah dasar? Apa yang kau lakukan kala itu?
Sebagian menjawab, aku lupa akan kenangan kala itu.

Lalu, ingatkah engkau kejadian demi kejadian di kala menginjak SMP dan SMA?
Ya, aku mulai mengingat kejadian demi kejadian. Namun, aku lupa dan tidak pasti mengingatnya.

Lalu, bagaimana dengan sekarang. Ingatkah apa yang telah engkau lakukan tahun lalu, bulan lalu, minggu lalu, kemarin?
Iya aku lebih ingat kenangan di beberapa tahun terakhir ini. Namun, aku tidak dapat mengingat seluruhnya secara pasti.

Lalu ingatkah siapa orang-orang di balik itu semua?
Pasti engkau akan menyebutkan banyak sekali orang-orang yang ada di sekitar mu.

Sahabat,
Bagaimana dengan ibu dan ayahmu?
Seberapa ingatkah engkau dengan mereka?
Benar-benar ingatkah engau dengan apa yang telah beliau berikan kepadamu!

Ingatkah siapa yang membawamu selama sembilan bulan lamanya ke manapun ia pergi?
Ingatkah siapa yang melahirkanmu ke dunia ini?
Ingatkah siapa yang mengajarimu makan dan minum?
Ingatkah siapa yang membantumu belajar berjalan dan berujar?
Ingatkah siapa yang mendidikmu hingga engkau seperti sekarang ini?
Ingatkah siapa yang bekerja keras siang malam memberikan perantara rezeki-Nya kepadamu?
Ingatkah engkau siapa yang telah membesarkanmu hingga kamu dapat menjadi orang seperti sekarang ini?

Coba engkau renungkan dan pikirkan sejenak!


Yaa,
Ya, Ibu.. Ibu.. Ibu.. dan ayahmu lah yang berada di balik semuanya.

Namun, seberapa pedulikah engkau dengan mereka?
Ingatkah engkau dengan kondisi mereka?
Apa yang telah engkau berikan kepada mereka?
Bukankah kita seringkali menolak ajakan mereka?
Bukankah kita sering membuat kesal mereka?
Seberapa seringkah kita membentak mereka?
Seberapa seringkah kita enggan melakukan apa yang mereka suruh?
Seberapa seringkah kita melalaikan amanah beliau?

Sahabat,
Ingatlah, kasih sayang yang mereka berikan tidak akan putus hingga kapanpun, tidak akan berakhir meskipun terpisahkan oleh dimensi yang berbeda. Tidak akan surut meskipun berada di tempat yang berbeda. Karena kasih sayang beliau merupakan perantara kasih sayang Sang Maha Pencipta yang tidak akan padam hingga kapan pun.

Namun, kembali..
Bagaimanakah kasih sayang kita kepada beliau?
Apa yang telah kita berikan kepada beliau?
Apa yang telah kita lakukan untuk beliau?
Sudahkah kita membahagiakan beliau?
Sudahkah kita berbakti kepada beliau?
Sudahkah kita selalu mendoakan beliau di sepanjang waktu?

Sahabat,
Ingatlah bahwa tanpa kehadiran beliau, kita tidak akan ada.
Tanpa kehadiran beliau, kita tidak akan ada di sini.
Tidak dapat merasakan nikmatnya mengenyam pendidikan, bekerja, dan melakukan aktivitas lainnya.

Namun, kita sering melupakan apa yang telah mereka berikan kepada kita dengan tulus dan ikhlas tanpa meminta imbalan apapun.

Sahabat,
Jangan sampai semuanya terlambat.
Jangan sampai waktu yang akhirnya memaksa kita untuk tidak lagi bertemu dengan mereka lagi.
Jangan sampai dimensi yang akhirnya memaksa kita berpisah dengan mereka.
Jangan sampai kendala jarak dan tempat membuat kita terlena dan melupakan mereka.
Jangan sampai semuanya membuat kita melupakan semua hal yang telah mereka korbankan dan berikan kepada kita.

Sahabat,
Jangan sampai semuanya terlambat.. Lakukan apa yang bisa engkau lakukan untuk dapat membahagiakan kedua orang tuamu.
Lakukan yang terbaik kepada beliau.

Bukankah ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala, berasal dari keridhoan kedua orang tua kita pula?

Sahabat,
Lakukan hal terbaik yang dapat engkau lakukan untuk mereka.
Jangan sampai engkau menyesali apa yang seharusnya dapat engkau lakukan.
Karena kita tidak tahu, akankah nanti, besok, lusa, minggu depan, tahun depan.
Kita masih dapat melihat mereka.
Masih dapat bertemu dengan mereka.
Dapat melihat senyum mereka.
Dapat memeluk mereka.
Dapat bercanda-tawa dengan mereka.

Karena sesungguhnya, mudahlah bagi-Nya untuk mengambil kembali apa yang telah dititipkan kepadamu.
Jadi, jangan sampai semuanya terlambat, kawan.

Minta maaflah atas segala kesalahan yang telah kita perbuat baik yang tidak sengaja maupun yang kita sengaja.

Dan semoga kelak, kita dapat dipertemukan kembali dengan beliau, dengan keluarga kita, dengan orang-orang shalih dan shalihah, dapat berkumpul kembali dalam keagungan dan kebesaran surga-Nya.
Berkumpul pula bersama junjungan kita, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya pula,
dapat bertemu dengan Sang Khaliq.

Semoga menapaki sisa jalan kehidupan dunia yang sementara ini, kita kembali menjadi pribadi yang bersih, pribadi yang jujur, pribadi yang berbakti kepada kedua orang tua kita. Menjadi putra-putri yang dapat membanggakan kedua orang tua kita serta menjadi putra-putri yang shaleh dan shalehah.

Amin, amin.. Yaa, Rabbal 'alamin..

Masih Ragukah Akan Janji-Nya?

Banyak yang percaya pada janji manusia, tetapi masih ragu dengan janji Tuhan-nya...

  • Janji-Nya rizki melimpah dengan banyak sedekah, tapi faktanya banyak tak melakukannya
  • Janji-Nya rizki tercukupi jika menikah yang diridhoi, tapi banyak muda-mudi tak peduli
  • Janji-Nya rizki membanjiri jika dhuha kita tegap berdiri, tapi banyak yang tak menuruti
  • Janji-Nya derajat naik lebih tinggi jika sepertiga malam tahajud ingat Illahi, tapi asyik saja rebahkan diri
  • Janji-Nya 9 dari 10 pintu rizki dari bisnis, tapi masih saja sinis dan miris bahwa bisnis sendiri akan berbuah manis
  • Janji-Nya kegelisahan akan disetor pada mereka yang hartanya kotor, tapi masih saja berani koruptor
  • Janji-Nya semua urusan akan dipermudah saat bantu kesulitan ummah, tapi masih saja suka mempersusah urusan orang-orang lemah
  • Janji-Nya derajat orang berilmu terangkat, tapi masih saja malas belajar selalu disemat
  • Janji-Nya silaturahim datangkan rizki, tapi nyatanya masih dijauhi bahkan putuskan relasi
  • Janji-Nya kerja tim (jamaah) hasilnya begitu luar biasa, tapi banyak yang sendiri kerjakan satu-satu sehingga hasilnya tetap itu-itu
Jadi, masihkah kita tidak menghiraukan janji-janji-Nya dan masih terbuai akan janji-janji manusia?


Dikutip dari: Kang Bashori (@motivatorjoss)

Islam dan Kemenangan

Sejak lebih dari setengah abad yang lalu, umat Islam ditimpa bencana kekalahan bertubi-tubi. Kebanyakan orang lupa tentang sebab-sebab kekalahan dan musibah ini. Padahal Allah berfirman:
“Artinya: Katakanlah: Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri” [Ali Imran: 165]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Artinya: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [Asy-Syura: 30]

Seandainya umat kita, baik penguasa maupun rakyat, mau menghayati Kitab Allah kemudian mengamalkan hukum-hukum serta hikmah-hikmahnya, niscaya mereka akan melakukan upaya-upaya untuk menang melawan musuh-musuhnya. Dan niscaya pula akan mengetahui sunatullah terhadap mahluk-Nya, yang tidak pernah berubah, berganti dan bergeser sepanjang masa.

Faktor-faktor menang melawan musuh, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Allah, banyak, di antaranya:
1. TAUHID, IMAN SHALIH
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh-sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku” [An-Nur: 55]

2. SIAPA YANG MENOLONG AGAMA ALLAH, NISCAYA ALLAH AKAN MENOLONGNYA
Menolong agama Allah ialah:
[a] Dengan menegakkan syari’at-Nya dan mengikuti petunjuk Nabi-Nya, untuk mewujudkan peribadatan hanya kepada Allah, menghidupkan sunnah serta mematikan dan memberantas bid’ah.
[b] Dengan memberikan loyalitas kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah serta memberikan permusuhan kepada pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah.
[c] Dengan melaksanakan amar ma’ruf-nahi mungkar serta jihad melawan musuh-musuh Allah di manapun mereka berada.
[d] Menolong agama Allah ialah dengan mentaati Allah dan Rasul-Nya; menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya serta meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Artinya: Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” [Al-Hajj: 160]

Orang yang demikian keadaannya, niscaya tidak akan dapat dikalahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Artinya: Jika Allah menolong kamu, maka tak ada-lah orang yang dapat mengalahkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu?” [Ali Imran: 160]

3. SABAR DAN TAQWA ADALAH SEBAB DATANGNYA PERTOLONGAN DAN BANTUAN ALLAH
Sesungguhnya Allah telah menjanjikan orang yang bersabar dan bertaqwa untuk memberikan pertolongan, kemenangan, bantuan, keberuntungan dan punahnya tipu daya musuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertaqwa, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan) mu” [Ali-Imran: 125-126]

“Artinya: Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka tidak sedikitpun mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan” [Ali-Imran: 120]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya: Ketahuilah bahwa jalan keluar disertai kesulitan, bahwa kemenangan disertai kesabaran dan sesungguhnya bersama kesukaran terdapat kemudahan” [Hadits shahih seperti dikatakan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Iqazh Al-Hinam Muntaqa Jami'al-Ulum wa Hikam, hal. 280, diriwayatkan oleh Ahmad, Abd bin Humaid]

4. SETIAP ORANG YANG TERANIAYA [DIZALIMI] MENDAPAT JANJI PERTOLONGAN DARI ALLAH, APALAGI JIKA IA SEORANG MUKMIN YANG BERTAQWA
Itu karena kezaliman adalah kegelapan. Allah telah mengharamkan kezaliman pada diri-Nya, dan Dia telah menjadikan kezaliman itu haram bagi mahluk-Nya. Allah memerintahkan supaya memberi pertolongan kepada orang yang dizalimi. Allah menjadikan do’anya orang yang terzalimi (teraniya) makbul dan tidak ada penghalang yang menutupi do’a itu dari Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesunguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu” [Al-Hajj: 39]

“Artinya: Demikianlah, dan barang siapa membalas seimbang dengan penganiyayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya” [Al-Hajj: 60]

Terdapat pula riwayat bahwa Allah pada hari kiamat akan meng-qishas kambing yang bertanduk karena menganiaya kambing yang tidak bertanduk. [Hadits Riwayat Tirmidzi ini merupakan sempurnanya keadilan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terhadap binatang saja demikian, apalagi terhadap suatu masyarakat yang dikucilkan, diusir dari negerinya sendiri, dilarang menggunakan senjata untuk melakukan perlawanan terhadap musuhnya dan tempat tinggalnya di pencar-pencar].

5. MENGIKUTI AGAMA SECARA BENAR DIJANJIKAN MENDAPAT PERTOLONGAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Dialah (Allah) yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an/ilmu yang bermanfaat) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai” [At-Taubah: 33]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya: Sungguh-sungguh perkara (Islam) ini akan mencapai apa yang dicapai oleh malam dan siang. Dan tidak akan tersisa sebuah rumah tembok pun, tidak pula rumah ilalang pun kecuali Allah akan masukkan agama ini ke dalamnya; dengan kemulian orang mulia atau dengan kehinaan orang hina. Kemuliaan yang Allah muliakan Islam dengannya (orang mulia tersebut), dan kehinaan yang Allah hinakan kekafiran dengan orang hina tersebut” [Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Bisran, Thabrani, Ibnu Mandah, Al-Hafidz Abdul Ghani Al-Naqdisi, Al-Hakim, dan lain-lainnya. Lihat Silsilah Shahihah No. 3]

Ini adalah janji yang termuat dalam Kitab Allah dan tertuangkan melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janji Allah tidak mungkin diingkari, sebab Allah tidak mengingkari janji.

6. PERSELISIHAN ADALAH SEBAB KEGENTARAN DAN KEKALAHAN
Umat Islam tidak mengalami kekahan kecuali karena pertentangan dan perpecahan mereka. Seandainya mereka bersatu padu dalam kalimat tauhid, bersatu bahasanya, sama-sama berpegang teguh pada tali Allah, berjihad melawan musuh-musuhnya untuk menjunjung tinggi kalimat Allah dan menegakkan tauhidullah serta memberantas habis kemusyrikan, niscaya Allah menolongnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Dan janganlah kamu saling bertentangan (berbantah-bantahan), yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang sabar” [Al-Anfal: 46]

7. MELAKUKAN PERSIAPAN UNTUK BERPERANG; MORIL MAUPUN MATERIIL
Yaitu dengan melakukan upaya-upaya sesuai dengan Sunnah Nabawiyah yang telah ditempuh oleh para nabi, padahal para nabi adalah orang-orang yang sangat jujur dan tawakkal kepada Allah. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah muncul dengan mengenakan dua buah baju zirah dalam salah satu pertempuran, beliau juga memakai pelindung kepala dalam peperangan.

Demikian pula para sahabatnya pun mengenakan baju zirah yang menyelimuti seluruh tubuh. Dan ini semua tidak menghilangkan tawakkal kepada Allah Subahanhu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sangggupi dan kuda-kuda yang ditambat untuk berperang” [Al-Anfal: 60]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menafsirkan ayat di atas dengan sabdanya.
“Artinya: Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah melepaskan anak panah (menepatkan sasaran -pen). Ketahuilah bahwa kekuatan adalah melepaskan anak panah (menepatkan sasaran -pen)" [Hadits Riwayat Muslim]

(Demikianlah) kita memohon kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala agar Dia memberikan taufiq kepada kita untuk melakukan usaha-usaha ke arah kemenangan melawan kaum Yahudi dan melawan semua musuh Islam lainnya. Pada hari kemenangan itulah, kaum mukminin bergembira ria mendapat pertolongan Allah. Dan itu tidaklah sulit bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.



Sumber: Disalin dari Majalah Al-Ashalah Edisi 30/Th. V/15 Syawal 1421 H. Sebuah tulisan yang merupakan kata penutup redaksi Al-Ashalah, Disalin ulang dari Majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun V/1422 H/2001 M hal. 26-28, Penerjemah Ahmas Faiz Asifuddin.

Setiap Insan Punya Peran untuk Mengubah Dunia Menjadi Lebih Baik

Manusia dan segala makhluk yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta tidak main-main, tidak ada yang sia-sia di dunia dan seisinya ini. Semuanya pasti ada tujuannya bahkan bagi yang menganggap dirinya tidak berarti sekalipun. Dalam kehidupan di dunia ini sesungguhnya ada suatu hal (amanah) yang hanya dititipkan oleh Allah kepada orang yang menganggap dirinya tidak berarti tersebut.

Allah telah menitipkannya kepadamu, menitipkan kepercayaan ini padamu, dan mempercayakan amanah ini kepadamu.

Kita lihat perumpamaan akan kebermanfaatan jam dinding. Ya, sebuah jam dinding tidak akan memiliki manfaat yang optimal jika tidak ditopang oleh 1 paku atau kail kecil yang ada dibelakangnya untuk merekatkannya di dinding.

Lalu, masihkah engkau menganggap dirimu tidak berarti apa-apa di dunia ini? Sesungguhnya tidak, maka kerjakanlah apa yang bisa engkau kerjakan detik ini. Lakukan apa yang dapat kamu lakukan hari ini.

Dan belajarlah dari segala apa yang telah engkau lalui dan jadilah insan yang dapat memberikan manfaat bagi dirimu sendiri, bagi keluargamu, bagi sahabatmu, bagi lingkunganmu, bagi bangsamu, serta bagi dunia dengan amanah dan peran yang telah Allah SWT titipkan kepadamu bahkan sejak sebalum engkau dilahirkan ke muka bumi ini.

Belajarlah Kemuliaan dari Siapa Saja, Termasuk dari Malaikat Allah

Belajarlah kemuliaan dari siapa saja yang dapat diteladani, tak hanya dari para nabi dan manusia-manusia suci (auliya'), tetapi kita juga dapat belajar banyak hal dari kemuliaan para malaikat-malaikat yang suci.

Belajarlah dari Malaikat Pendistribusi Rezeki, Miikail (as) bahwa yang utama bukan apa-apa yang kita tumpuk dan simpan melainkan seberapa banyak yang bisa kita bagi-bagikan dari curahan rezeki-Nya kepada yang membutuhkan dengan ikhlas dan bijaksana.

Belajarlah dari Malaikat Penyebar Wahyu dan Ilmu Pengetahuan, Jibril (as) bahwa yang utama bukanlah apa-apa yang kita ketahui dan pelajari malainkan seberapa banyak yang telah kita sebarkan tentang pengetahuan- pengetahuan ruhaniyyah itu dengan jujur, santun, dan (dengan) bahasa sederhana demi kesejahteraan dan kebahagiaan lahir-batin banyak manusia.

Belajarlah dari Malaikat Peniup Sangkakala, Israafil "Yang Membakar" (as) bahwa yang utama bukanlah tugas dan tanggung jawab atas apa yang dipercayakan Sang Pencipta kepada kita melainkan sudahkah kita melaksanakan dan memenuhi itu semua dengan sebaik-baiknya.

Belajarlah dari Malaikat Kepala Penjaga Neraka, Maalik (as) bahwa yang utama bukan kapan dan dosa-dosa apa yang manusia perbuat melainkan sudahkah bertobat atas segala dosa karena segala sesuatunya kelak akan dimintai pertanggung-jawaban.

Belajarlah dari Malaikat Kepala Penjaga Surga, Ridhwan (as) bahwa yang utama bukanlah seberapa banyak amalan manusia melainkan seberapa ikhlas-kah manusia beramal karena amal yang ternodai oleh riya' dan ujub tertolak kembali ke dunia. Dan, hanya amal-amalan yang sepenuhnya ikhlas diamalkannya yang diridhoi-Nya, terangkat, dan kelak akan menerima balasannya.

Belajarlah dari Malaikat Pencabut Nyawa, 'Izraail (as) bahwa yang utama bukanlah oleh apa dan bagaimana kita akan mati malainkan sudahkah kondisi jiwa kita muthma'innah (tentram), radhiyyah (ridho), dan mardhiyyah (diridhoi Allah) jika sudah maka kapan, di mana, dan dalam kondisi apa kita dimatikan bukan lagi menjadi masalah yang menghantui, mengelisahkan, dan mengerdilkan jiwa.

Salam sejahtera atas malaikat-malaikat yang membimbing orang-orang yang beriman.


*Disarikan dari Catatan Harian Membuka Hati
Mas Yos Wiyoso Hadi, Pegawai Negeri di Ditjen Pajak, Depkeu RI

Indahnya Lantunan Doa Khatmil Qur'an

Ya Allah, curahkanlah rahmat kepadaku dengan Al-Qur’an, dan jadikan Al-Qur’an sebagai pemimpin, petunjuk, dan rahmat bagiku.

Ya Allah, ingatkanlah aku terhadap apa yang telah aku lupakan dari Al-Qur’an. Anugerahilah aku kemampuan untuk senantiasa membacanya sepanjang malam dan siang. Jadikanlah Al-Quran hujjah bagiku (yang dapat menyelamatkanku) ya Rabbal ‘Alamin.

Ya Allah, benahilah (pengetahuan dan pengamalan) agamaku, yang akan menjadi penjaga urusanku. Benahilah duniaku, tempat aku mencari penghidupan. Baguskanlah (kehidupan) akhiratku, tempat aku kembali. Jadikanlah hidupku sebagai tempat untuk melaksanakan segala kebajikan dan jadikanlah matiku sebagai pemutus segala keburukan.

Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku (agar menjadi amal yang terbaik) di akhir usiaku. Hariku yang terbaik adalah hari di saat aku bertemu dengan-Mu (kelak).

Ya Allah, aku memohon hidup yang nyaman, mati yang tenang, dan tempat kembali (akhirat) yang tidak memalukan dan menghinakan.

Ya Allah, aku meminta permintaan yang terbaik, permohonan terbaik, keberhasilan terbaik, ilmu terbaik, amal terbaik, pahala terbaik, kehidupan terbaik, kematian terbaik, dan tetapkanlah aku dalam semua kebaikan itu. Beratkanlah timbangan (amal baikku), kukuhkanlah imanku, tinggikanlah derajatku, terimalah shalatku, ampunilah kesalahan-kesalahanku; dan aku memohon surga yang paling tinggi kepada-Mu.

Ya Allah, pastikanlah aku memeroleh rahmat-Mu, meraih ampunan-Mu, terbebas dari segala dosa, mendapat manfaat dari segala kebaikan, meraup keuntungan berupa surga, dan terlepas dari siksa neraka.

Ya Allah, baguskanlah akhir semua amal kami, serta jauhkanlah kami dari hinanya dunia dan siksa akhirat.

Ya Allah, berilah kami rasa takut kepada-Mu yang akan menghalangi kami dari berbuat maksiat. Anugerahilah kami ketaatan kepada-Mu yang akan mengantarkan kami (memasuki) surga-Mu. Curahkanlah keyakinan sehingga meringankan musibah hidup yang menimpa kami. Limpahilah kami kepuasan dengan pendengaran, penglihatan, dan kesehatan selama Engkau menghidupkan kami, serta jadikanlah semua itu sebagai warisan bagi kami. Hadirkanlah seorang penuntut bagi siapa saja yang menzalimi kami. Tolonglah kami dalam menghadapi orang-orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan musibah dalam agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan utama kami, dan tidak pula tujuan utama ilmu kami. Janganlah Engkau tempatkan kami di bawah kekuasaan orang-orang yang tidak menyayangi kami.

Ya Allah, janganlah Engkau sisakan secuil dosa-pun (bagiku), melainkan Engkau ampuni semuanya. Janganlah Engkau tinggalkan sebersit keraguan pun (bagiku), melainkan Engkau hilangkan semuanya. Janganlah Engkau tinggalkan sepeser hutang pun (bagiku) melainkan Engkau lunasi semuanya. Janganlah Engkau abaikan segala kebutuhan dunia dan akhiratku, melainkan Engkau penuhi semuanya, wahai Dzat yang Maha Pengasih dari segala pengasih.

Ya Tuhan kami, anugerahilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta jagalah kami dari siksa api neraka. Semoga Allah mencurahkan shalawat atas nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya yang terpilih, serta salam yang berlimpah ruah.

Amin, Yaa Rabbal ‘alamin..

Wednesday, 2 April 2014

Yuk menulis (lagi)!

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer

Ya, benarlah apa yang disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer. Manusia hidup di dunia ini hanya sementara, maka legacy atau karya apa yang telah kita siapkan untuk dapat memberikan manfaat yang lebih besar lagi bagi kehidupan yang akan datang. Jika kita tidak menulis, maka jejak-jejak perjalanan kita akan hilang bigitu saja karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Islam pun menjelaskan kepada kita bahwa setidaknya ada tiga hal yang kelak ketika kita telah meninggal dunia yang amalnya masih tetap akan mengalir kepada kita. Seperti diriwayatkan oleh Abu Hurayrah, bahwa Rasulullah bersabda, ‘Jika manusia mati maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang mendoakannya’ (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam hal ini, tulisan maupun karya yang kita buat diharapkan dapat memberikan kebermanfaatan yang lebih besar, lebih luas, dan lebih optimal lagi ketika kita mendokumentasikannya dalam sebuah tulisan. Jadi, ilmu pengetahuan yang kita peroleh dapat kita lipatgandakan jangkauan dan 'masa berlaku'nya sehingga semakin banyak yang memeroleh manfaat dari buah tulisan kita.

Ayo menulis dan ukir keabadian mulai dengan goresan-goresan tinta emas kita!


Fachri Ya'qub
Depok, 3 April 2014 / 2 Jumadil Akhir 1435H


CATATAN: Dalam blog ini (per hari ini), jangan heran kalau ada tulisan-tulisan yang baru dimuat atau dipublikasikan padahal kejadiannya sudah lama sekali berlalu. Banyak tulisan dan catatan yang telah ditulis sebelumnya yang 'berserakan' mulai dari catatan kecil di buku dan berbagai notes di media sosial hingga yang (alhamdulillah) masih ada dalam ingatan. InsyaAllah, tulisan-tulisan yang pernah dibuat sebelumnya akan dikumpulkan dan dimigrasikan ke dalam blog ini.

Sunday, 4 July 2010

Asmaul Husna, The Names of Allah

1 Allah (الله) The Greatest Name
2 Ar-Rahman (الرحمن) The All-Compassionate
3 Ar-Rahim (الرحيم) The All-Merciful
4 Al-Malik (الملك) The Absolute Ruler
5 Al-Quddus (القدوس) The Pure One
6 As-Salam (السلام) The Source of Peace
7 Al-Mumin (المؤمن) The Inspirer of Faith
8 Al-Muhaymin (المهيمن) The Guardian
9 Al-Aziz (العزيز) The Victorious
10 Al-Jabbar (الجبار) The Compeller
11 Al-Mutakabbir (المتكبر) The Greatest
12 Al-Khaliq (الخالق) The Creator
13 Al-Bari (البارئ) The Maker of Order
14 Al-Musawwir (المصور) The Shaper of Beauty
15 Al-Ghaffar (الغفار) The Forgiving
16 Al-Qahhar (القهار) The Subduer
17 Al-Wahhab (الوهاب) The Giver of All
18 Ar-Razzaq (الرزاق) The Sustainer
19 Al-Fattah (الفتاح) The Opener
20 Al-`Alim (العليم) The Knower of All
21 Al-Qabid (القابض) The Constrictor
22 Al-Basit (الباسط) The Reliever
23 Al-Khafid (الخافض) The Abaser
24 Ar-Rafi (الرافع) The Exalter
25 Al-Muizz (المعز) The Bestower of Honors
26 Al-Mudhill (المذل) The Humiliator
27 As-Sami (السميع) The Hearer of All
28 Al-Basir (البصير) The Seer of All
29 Al-Hakam (الحكم) The Judge
30 Al-Adl (العدل) The Just
31 Al-Latif (اللطيف) The Subtle One
32 Al-Khabir (الخبير) The All-Aware
33 Al-Halim (الحليم) The Forebearing
34 Al-Azim (العظيم) The Magnificent
35 Al-Ghafur (الغفور) The Forgiver and Hider of Faults
36 Ash-Shakur (الشكور) The Rewarder of Thankfulness
37 Al-Ali (العلى) The Highest
38 Al-Kabir (الكبير) The Greatest
39 Al-Hafiz (الحفيظ) The Preserver
40 Al-Muqit (المقيت) The Nourisher
41 Al-Hasib (الحسيب) The Accounter
42 Al-Jalil (الجليل) The Mighty
43 Al-Karim (الكريم) The Generous
44 Ar-Raqib (الرقيب) The Watchful One
45 Al-Mujib (المجيب) The Responder to Prayer
46 Al-Wasi (الواسع) The All-Comprehending
47 Al-Hakim (الحكيم) The Perfectly Wise
48 Al-Wadud (الودود) The Loving One
49 Al-Majid (المجيد) The Majestic One
50 Al-Baith (الباعث) The Resurrector
51 Ash-Shahid (الشهيد) The Witness
52 Al-Haqq (الحق) The Truth
53 Al-Wakil (الوكيل) The Trustee
54 Al-Qawiyy (القوى) The Possessor of All Strength
55 Al-Matin (المتين) The Forceful One
56 Al-Waliyy (الولى) The Governor
57 Al-Hamid (الحميد) The Praised One
58 Al-Muhsi (المحصى) The Appraiser
59 Al-Mubdi (المبدئ) The Originator
60 Al-Muid (المعيد) The Restorer
61 Al-Muhyi (المحيى) The Giver of Life
62 Al-Mumit (المميت) The Taker of Life
63 Al-Hayy (الحي) The Ever Living One
64 Al-Qayyum (القيوم) The Self-Existing One
65 Al-Wajid (الواجد) The Finder
66 Al-Majid (الماجد) The Glorious
67 Al-Wahid (الواحد) The One, the All Inclusive, The Indivisible
68 As-Samad (الصمد) The Satisfier of All Needs
69 Al-Qadir (القادر) The All Powerful
70 Al-Muqtadir (المقتدر) The Creator of All Power
71 Al-Muqaddim (المقدم) The Expediter
72 Al-Muakhkhir (المؤخر) The Delayer
73 Al-Awwal (الأول) The First
74 Al-Akhir (الأخر) The Last
75 Az-Zahir (الظاهر) The Manifest One
76 Al-Batin (الباطن) The Hidden One
77 Al-Wali (الوالي) The Protecting Friend
78 Al-Mutaali (المتعالي) The Supreme One
79 Al-Barr (البر) The Doer of Good
80 At-Tawwab (التواب) The Guide to Repentance
81 Al-Muntaqim (المنتقم) The Avenger
82 Al-Afuww (العفو) The Forgiver
83 Ar-Rauf (الرؤوف) The Clement
84 Malik-al-Mulk (مالك الملك) The Owner of All
85 Dhu-al-Jalal wa-al-Ikram (ذو الجلال و الإكرام) The Lord of Majesty and Bounty
86 Al-Muqsit (المقسط) The Equitable One
87 Al-Jami (الجامع) The Gatherer
88 Al-Ghani (الغنى) The Rich One
89 Al-Mughni (المغنى) The Enricher
90 Al-Mani(المانع) The Preventer of Harm
91 Ad-Darr (الضار) The Creator of The Harmful
92 An-Nafi (النافع) The Creator of Good
93 An-Nur (النور) The Light
94 Al-Hadi (الهادي) The Guide
95 Al-Badi (البديع) The Originator
96 Al-Baqi (الباقي) The Everlasting One
97 Al-Warith (الوارث) The Inheritor of All
98 Ar-Rashid (الرشيد) The Righteous Teacher
99 As-Sabur (الصبور) The Patient One Only One), and He loves odd